hit counter code
Welcome Guest [Log In] [Register]


News Update

Reminder

KALENDER NIH TERM 22

Kami mengingatkan sekali lagi kepada para member IndoHogwarts untuk tetap menyertakan terjemahan pada bahasa asing selain bahasa Indonesia dan tetap berada pada rating yang ditentukan.


Posted Image
Selamat datang di Forum Role Play Basis Teks
INDOHOGWARTS


Kami berharap kamu dapat menikmati kunjungan ini. Saat ini, kamu sedang meninjau Forum kami sebagai guest/tamu. Hal ini berarti area tinjauanmu terhadap board dan fitur-fitur yang dapat digunakan di dalam Forum ini masih sangat terbatas.

Registrasi dalam Forum ini bebas biaya, namun tahapannya tidak terlalu sederhana, kamu disarankan untuk membaca terlebih dahulu Registrasi dan Aplikasi sebelum mendaftar pada waktu yang telah ditentukan.

Jika kamu sudah menjadi member, silahkan log in ke dalam Akunmu untuk mengakses Forum.
Posted Image

Username:   Password:
Locked Topic
Ceritakan Ceritamu; Aplikasi Chara Tim Quidditch Mahoutokoro
Topic Started: Nov 11 2016, 07:51 AM (2,039 Views)
Argent


PERINGATAN!

Seluruh informasi dan konten berikut ini sepenuhnya adalah hasil ide, kreasi, pikiran dan Imajinasi Forum Role Play IndoHogwarts yang dipadukan dengan informasi yang diperoleh dari HPWiki. Segala penggunaan informasi di luar Forum ini adalah terlarang dan dapat dikenakan sanksi yang berat dan tegas oleh Admins Forum IndoHogwarts dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu (Ingatlah bahwa Forum IndoHogwarts dilindungi hukum).


Posted Image

Topik ini disediakan khusus bagi para calon Puppet Master (PM) Tim Quidditch Mahoutokoro, sebagai media untuk menunjukkan contoh tulisan role play sebagai menjadi salah satu syarat pendaftaran tahap 1 aplikasi Chara Tim Quidditch Mahoutokoro. Sebelum membuat contoh tulisan chara anda, dimohon untuk memperhatikan beberapa hal berikut:


  • Perhatikan dan baca ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Garis-garis Besar Haluan NewIndohogwarts
  • Pastikan Anda telah memahami dan memenuhi semua kriteria dan syarat yang diberlakukan di dalam Forum NewIndoHogwarts sebelum mengajukan Aplikasi Tim Quidditch Mahoutokoro NewIndoHogwarts
  • Gunakan akun Guest untuk melakukan post di topik ini
  • Setiap satu chara (dan satu Puppet Master) cukup membuat dan mengunggah satu contoh tulisan satu kali sehingga satu tulisan yang masuk akan tercatat dengan satu alamat IP untuk kepentingan database.
  • Jangan lupa untuk mencantumkan nama chara anda dan nama visualisasi serta email aktif yang digunakan di pojok kiri atas contoh tulisan anda
  • Usahakan contoh tulisan bisa menggambarkan dan memuat secara sekilas karakter atau sifat chara dan latar belakang kehidupan chara
  • Buat tautan pada form aplikasi chara anda ke contoh tulisan anda disini

Pelangikan Imajinasimu!

Posted Image
Offline Profile Goto Top
 
Kenshin Nakamura
Unregistered

"Sona-chan!!"

Anak laki-laki itu meluncur cepat ke angkasa saat melihat sebuah bludger melayang ke arah adik perempuannya. Telinganya mendadak pekak karena peningkatan tekanan tiba-tiba.

"Nakamura!!!"

Suara milik kapten Quidditchnya seakan guntur yang memperingatkan kalau ia harus lebih fokus pada hasil pertandingan dibanding keadaan Sona. Seisi tribun kini memandanginya, Nakamura membelokan sapunya dengan tajam. Quaffle baru saja berpindah ke tangan lawan.

"Mati kau Ikada!!!"

Teriakannya membahana ketika sapu akhirnya bertabrakan hebat dengan chaser lawan. Tumbukan itu sukses menimbulkan bunyi yang membuat seisi stadion terkesiap kuatir. Ia bisa merasakan nyeri di ulu hatinya. Cedera dalam, tapi siapa yang benar-benar peduli disaat mereka membutuhkan satu gol lagi sebelum Yamada boleh menangkap Snitchnya.

Quaffle kini ada dalam genggaman, binernya menangkap keberadaan sapu milik Ikada kembali menyabotase arah lajunya. Anak laki-laki itu lalu meludah ke udara, campuran warna bening dan kemerahan yang menandakan ia mengalami pendarahan dalam.

Tawa kasar terdengar dari bibirnya.

"Kau kira kau akan menang?!"

Quaffle itu ia lempar tepat di saat Ikada menubruk ujung sapunya, pemuda itu oleng. Sementara Quafflenya meluncur menembus tiang gawang.

"Gol! " Teriakan dari komentator.

Tawa Nakamura makin keras, ia kembali mencoba mengendalikan sapunya sementara Ikada telah meluncur jauh.


Nyeri di ulu hatinya semakin lama semakin bertambah.

"Kemana kau bocah tengik!!"

"Tangkap Snitchnya!!"

Ia terengah saat kepalanya memutar mencari keberadaan Seeker tim mereka. Namun sebelum ia berhasil menemukan rekan tersebut. Tribun sudah bergemuruh. Tapi bukan tribunnya, tribun milik asrama si tengik Ikada.

Mereka kalah.


Untuk pertama kali dalam hidupnya Kenshin Nakamura kalah!




"Kakak.."

Sona-chan sudah terbang mendekatinya. Namun Nakamura tidak menoleh. Ia melayang pergi. Satu-satunya yang dibutuhkannya sekarang adalah berendam dalam air panas tanpa diganggu siapapun.



Memalukan!
Goto Top
 
Kenshin Nakamura
Unregistered

Nama Karakter: Kenshin Nakamura
Nama Visualisasi: Akanishi Jin
Email aktif: kenthenakamura@gmail.com



"Sona-chan!!"

Anak laki-laki itu meluncur cepat ke angkasa saat melihat sebuah bludger melayang ke arah adik perempuannya. Telinganya mendadak pekak karena peningkatan tekanan tiba-tiba.

"Nakamura!!!"

Suara milik kapten Quidditchnya seakan guntur yang memperingatkan kalau ia harus lebih fokus pada hasil pertandingan dibanding keadaan Sona. Seisi tribun kini memandanginya, Nakamura membelokan sapunya dengan tajam. Quaffle baru saja berpindah ke tangan lawan.

"Mati kau Ikada!!!"

Teriakannya membahana ketika sapu akhirnya bertabrakan hebat dengan chaser lawan. Tumbukan itu sukses menimbulkan bunyi yang membuat seisi stadion terkesiap kuatir. Ia bisa merasakan nyeri di ulu hatinya. Cedera dalam, tapi siapa yang benar-benar peduli disaat mereka membutuhkan satu gol lagi sebelum Yamada boleh menangkap Snitchnya.

Quaffle kini ada dalam genggaman, binernya menangkap keberadaan sapu milik Ikada kembali menyabotase arah lajunya. Anak laki-laki itu lalu meludah ke udara, campuran warna bening dan kemerahan yang menandakan ia mengalami pendarahan dalam.

Tawa kasar terdengar dari bibirnya.

"Kau kira kau akan menang?!"

Quaffle itu ia lempar tepat di saat Ikada menubruk ujung sapunya, pemuda itu oleng. Sementara Quafflenya meluncur menembus tiang gawang.

"Gol! " Teriakan dari komentator.

Tawa Nakamura makin keras, ia kembali mencoba mengendalikan sapunya sementara Ikada telah meluncur jauh.


Nyeri di ulu hatinya semakin lama semakin bertambah.

"Kemana kau bocah tengik!!"

"Tangkap Snitchnya!!"

Ia terengah saat kepalanya memutar mencari keberadaan Seeker tim mereka. Namun sebelum ia berhasil menemukan rekan tersebut. Tribun sudah bergemuruh. Tapi bukan tribunnya, tribun milik asrama si tengik Ikada.

Mereka kalah.


Untuk pertama kali dalam hidupnya Kenshin Nakamura kalah!




"Kakak.."

Sona-chan sudah terbang mendekatinya. Namun Nakamura tidak menoleh. Ia melayang pergi. Satu-satunya yang dibutuhkannya sekarang adalah berendam dalam air panas tanpa diganggu siapapun.



Memalukan!
Goto Top
 
Kaguya Sakata
Unregistered

Nama Karakter: Kaguya Sakata
Nama Visualisasi: Kanna Hashimoto
Alamat e-mail: shirokumamiku@gmail.com


"Ha! Kau lihat apa ini, Sougi!"

Saat mengacungkan gagang sapu dengan ukiran 'Danau Toya' itu ke hadapan wajah Ogira Sougi, sesungguhnya Kaguya merasa amat bangga. Ia tidak pernah menggunakan sapu kuno begitu, memang, tapi kali ini, Kaguya merasa perlu memberi pelajaran pada seniornya yang sombong itu, Ogira Sougi. Mereka selalu bertengkar setiap bertemu karena Sougi bersikap menyebalkan padanya. Kaguya yakin, pasti karena ia memiliki sapu terbang legendaris itu.

"Ini adalah sapu terbang legendaris milik ayahku! Kau tahu siapa ayahku, kan?" Supaya Sougi tidak bisa merebut sapu itu darinya, buru-buru Kaguya menyingkap hakama yang sedang dipakainya dan terbang dengan cepat. Geraknya selalu lincah, tapi sial, Sougi selalu bisa mengejar. "Ayahku adalah pemain quidditch legendaris yang dijuluki Siluman Putih!"

JDAK!

"Terus?"

Sougi tampak terpancing, bahkan memukulinya dengan bludger yang melesat di udara, hampir saja mengenai Kaguya jika tidak cepat berbelok. Sesuatu yang selalu membuat Kaguya merasa kesal karena seniornya itu selalu melakukan sesuatu secara tiba-tiba.

"Kalau pakai sapu ini, aku pasti bisa mengalahkanmu!"

"Oh, ya? Coba saja, memangnya kau bisa mengalahkan Kikumonji-ku?" Itu nama sapu terbang yang selalu dibangga-banggakan oleh Sougi, omong-omong, sambil si senior sombong ikut meliuk di udara. Sama-sama sapu terbang legendaris juga dengan ukiran bunga krisan, yang konon merupakan salah satu sapu terkutuk terkutuk di sekolah mereka. Itu benar! Satu Mahoutokoro tidak ada yang pernah bisa 'menaklukan' Kikumonji. Hanya Sougi yang kemudian bisa menggunakan sapu itu untuk terbang dengan mudah, dan kini membangga-banggakannya.

"Kau sendiri, yakin bisa mengalahkanku? Heh!" Kaguya mau menyombong lagi, tapi sungguhan, deh, si sapu Danau Toya ini sulit juga untuk dikendalikan. Padahal ia sudah susah-susah mencuri dari ayahnya kemarin malam yang tengah sibuk membaca kitab sakti keluaran 'Pemuda Melompat'. Ayahnya amat suka dengan buku satu itu hingga tidak perhatian pada sekitar ketika sedang asyik membacanya, omong-omong. "Ayo kita bertanding kalau begitu!" Akhirnya, Kaguya memberi tantangan lagi.

"Seperti biasa..."

Sougi melebarkan seringai.

Benar, seperti biasa.

Kaguya ikut menyeringai.

Seperti biasa, mereka selalu bersaing untuk mendapatkan posisi nomor satu. Dan seperti biasa pula, mereka tahu bahwa hanya akan ada satu posisi untuk itu. Dalam pertandingan minggu depan, misalnya, tentu saja sekolah hanya akan memilih satu permain terbaik untuk mereka tempatkan dalam posisi itu, posisi yang selalu Kaguya dan Sougi rebutkan.
Goto Top
 
Shizuka Hirano
Unregistered

Nama karakter: Shizuka Hirose
Nama visualisasi: Nozomi Sasaki
E-mail aktif: ninjainvisible2013@gmail.com


Keputusan orangtuanya sudah bulat: Shizuka harus menikahi anak sulung Tuan Watanabe, tidak peduli Shizuka mau atau tidak. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan keluarga Hirose untuk melunasi hutang-hutang mereka pada Tuan Watanabe. Fakta bahwa Shizuka masih berusia lima belas tahun membuat kedua orangtuanya tidak tega menjadikan Shizuka sebagai wanita penghibur. Menjadi istri seorang tuan tanah yang terhormat, yang seumuran dengan ayahnya, jauh lebih terhormat daripada menjadi pelacur jalanan menjajakan tubuhnya yang bahkan masih belum berbentuk.

"Kau tidak apa-apa, Shizu?"

Shizuka menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Ran, teman baiknya itu, lalu dia buru-buru menghapus airmatanya. Dia tahu, seharusnya tidak boleh membawa masalah pribadi ke lapangan Quidditch karena itu bisa mengganggu konsentrasinya. Sebagai seorang Keeper, Shizuka harus siaga setiap saat. Oleh karena itu, dia memaksakan tersenyum pada Ran, mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, lalu kembali mondar-mandir di depan gawang. Sekuat tenaga berusaha mengembalikan fokusnya pada pertandingan Quidditch yang sedang dia ikuti sekarang.

Kedua tangan Shizuka memegang erat-erat gagang sapunya, sementara dia memperhatikan Ran yang sudah terbang melesat memburu Bludger. Belum ada tanda-tanda keberadaan Snitch, karena terkadang Shizuka juga menyempatkan diri untuk mencari Snitch meskipun itu bukan tugas utamanya.

Dua orang Chaser tim lawan sekarang sedang meluncur tepat ke arah Shizuka. Jaraknya masih cukup jauh, tapi Shizuka sudah bersiaga dan fokus sepenuhnya. Dia masih tetap terbang mondar-mandir di depan gawang, tapi perhatiannya tertuju pada dua Chaser tim lawan.

Bludger yang dipukul Ran menghantam salah satu Chaser tepat di punggung, menyisakan satu Chaser lagi yang terus melesat maju dengan kecepatan tinggi. Shizuka menahan napas, rahangnya mengeras, berusaha membaca gerakan si Chaser. Ke kanan? Ke kiri? Atau melakukan gerak tipu ke kanan padahal dia mengincar sebelah kiri? Biar bagaimanapun, Shizuka harus bisa membaca gerakan seperti itu. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, beberapa Chaser memiliki gerakan tipu yang bagus.

Dan Shizuka tertipu, sejauh apapun tangannya menjangkau, tidak bisa menangkap Quaffle yang baru saja dilemparkan Chaser tim lawan.

Untungnya, Dewi Keberuntungan masih berpihak pada Shizuka. Chaser itu melempar bola terlalu tinggi, dan dia hanya bisa terperangah ketika bolanya lewat di atas kepala Shizuka, dan lewat di atas gawang, jauh di atas gawang.

Sorakan penuh kelegaan terdengar dari mulut Shizuka dan rekan-rekan satu timnya.
Goto Top
 
Akiko Kudou
Unregistered

Nama karakter: Akiko Kudou
Nama visualisasi: Nana Komatsu
Alamat e-mail: orinthialee@yahoo.com

WUUUUUSH—


Akiko terbang dengan cepat—sepasang matanya menatap tajam pada satu titik keemasan di depan. Angin sedang berpihak padanya saat itu hingga kecepatan sapu terbang tunggangannya memberikan keuntungan besar. Fokus membuatnya menggigit bibir bawah tanpa sadar.

Kejar, kejar, Akiko!

Gadis itu sesekali melirik ke sekitarnya—berjaga-jaga. Tepat pada saat itu, sesuatu terdengar berdesing membelah angin, disusul kelebatan hitam yang melesat begitu cepat ke arahnya. Mata Akiko melebar. Gadis itu segera menunduk, berpegangan erat pada batang sapunya, lalu melakukan manuver untuk menghindar dari hantaman bola besi.

"Tsk! Nyaris saja!" omel Akiko dengan bibir cemberut. Dan gara-gara serangan tak terduga itu, ia kehilangan Snitch yang sedang dikejarnya. "Aaah... menyebalkan sekali! Baka!1"

"Yoooo! Yamato Nadeshiko2-san!" seru seseorang dari arah belakang. Beberapa detik kemudian, sosok itu sudah melayang tepat di sampingnya dengan wajah semringah tapi mengandung keisengan di binar matanya.

Akiko mencibir. Ia cukup yakin pada apa yang bakal diucapkan pemuda itu setelah memanggilnya dengan sebutan yang belakangan ini membuatnya muak. Hu. Gadis itu merunduk rapat pada sapunya, gestur yang menandakan ia hendak mempercepat laju terbangnya. Matanya masih mencari-cari kelebat keemasan di udara.

Tapi Shintarou—teman masa kecilnya—masih belum puas mengganggunya.

"Wah, aku penasaran apa reaksi ibumu kalau melihat penampilanmu sekarang," kata pemuda itu mendecak. Sejenak, pemuda itu terbang menjauh, merebut Quaffle dengan cekatan. Dari sudut mata, Akiko bisa melihat pemuda itu berhasil menambah skor timnya dengan mudah—ya, sayang sekali Shintarou yang hebat itu adalah Chaser tim yang sekarang jadi lawannya. Setelah bersorak bersama pemain di timnya, pemuda itu terbang kembali mendekatinya.

"Bisa tidak kau biarkan aku sendiri dulu?" protesnya galak.

"Kau berbeda sekali kalau sedang di atas sapu," ledek Shintarou. "Mana dirimu yang lemah lembut dan penuh santun? Tatanan rambutmu bahkan sudah acak-acakan sekarang."

"Bukan urusanmu," balas Akiko tanpa melepaskan kewaspadaannya mencari Snitch yang akan memberikan kemenangan pada timnya. Si bodoh itu malah mengungkit soal rambut. Memangnya rambut siapa yang akan tetap rapi jika ditiup angin sekencang ini? Lagi pula, Akiko tidak lagi peduli soal tata krama a la Jepang jika sedang bermain Quidditch. Di atas sapu terbangnya, ia bisa menjadi dirinya sendiri yang sesungguhnya tidak sefeminin pencitraannya yang biasa. Ia yakin, dalam darahnya memang mengalir darah pemain Quidditch seperti ayah dan kakak laki-lakinya.

Saat itulah Akiko kembali melihat apa yang dicari-carinya. Ia melirik ke arah Seeker lawan dan mendesah lega melihat orang itu sepertinya belum menyadari di mana Snitch berada. Akiko tersenyum senang. Binar matanya pun segera berubah—kembali fokus pada permainan. Shintarou? Ah, abaikan saja si bodoh satu itu.

"Jaa3," serunya sembari memelesat cepat ke arah tiang gawang di mana Snitch sedang terbang berputar-putar. Tubuhnya yang mungil seolah menyatu dengan sapu terbangnya, tampak bagai anak panah di mata orang-orang.

Beater lawan menyadari geraknya dan segera melontarkan Bludger ke arahnya.

Akiko mengulurkan tangan.

Bludger semakin dekat.

Namun Akiko dua detik lebih cepat. Tangannya mencengkeram Snitch dan ia berhasil menghindari Bludger tepat pada waktunya. Gadis itu mengacungkan tangannya yang memegang Snitch tinggi-tinggi. Senyum lebar terpatri di wajahnya. Sorakan membahana di tribun penonton. Teman-teman setimnya segera mengelilinginya dengan sorakan yang tak kalah kencang.

Ah, kemenangan memang terasa begitu manis.

1Baka: dasar bodoh
2Yamato Nadeshiko: sebuah istilah dalam bahasa Jepang yang merupakan personifikasi dari wanita Jepang yang ideal.
3Jaa: sampai nanti
Goto Top
 
Akiko Kudou
Unregistered

Nama karakter: Akiko Kudou
Nama visualisasi: Nana Komatsu
Alamat e-mail: orinthialee@yahoo.com

WUUUUUSH—


Akiko terbang dengan cepat—sepasang matanya menatap tajam pada satu titik keemasan di depan. Angin sedang berpihak padanya saat itu hingga kecepatan sapu terbang tunggangannya memberikan keuntungan besar. Fokus membuatnya menggigit bibir bawah tanpa sadar.

Kejar, kejar, Akiko!

Gadis itu sesekali melirik ke sekitarnya—berjaga-jaga. Tepat pada saat itu, sesuatu terdengar berdesing membelah angin, disusul kelebatan hitam yang melesat begitu cepat ke arahnya. Mata Akiko melebar. Gadis itu segera menunduk, berpegangan erat pada batang sapunya, lalu melakukan manuver untuk menghindar dari hantaman bola besi.

"Tsk! Nyaris saja!" omel Akiko dengan bibir cemberut. Dan gara-gara serangan tak terduga itu, ia kehilangan Snitch yang sedang dikejarnya. "Aaah... menyebalkan sekali! Baka!1"

"Yoooo! Yamato Nadeshiko2-san!" seru seseorang dari arah belakang. Beberapa detik kemudian, sosok itu sudah melayang tepat di sampingnya dengan wajah semringah tapi mengandung keisengan di binar matanya.

Akiko mencibir. Ia cukup yakin pada apa yang bakal diucapkan pemuda itu setelah memanggilnya dengan sebutan yang belakangan ini membuatnya muak. Hu. Gadis itu merunduk rapat pada sapunya, gestur yang menandakan ia hendak mempercepat laju terbangnya. Matanya masih mencari-cari kelebat keemasan di udara.

Tapi Shintarou—teman masa kecilnya—masih belum puas mengganggunya.

"Wah, aku penasaran apa reaksi ibumu kalau melihat penampilanmu sekarang," kata pemuda itu mendecak. Sejenak, pemuda itu terbang menjauh, merebut Quaffle dengan cekatan. Dari sudut mata, Akiko bisa melihat pemuda itu berhasil menambah skor timnya dengan mudah—ya, sayang sekali Shintarou yang hebat itu adalah Chaser tim yang sekarang jadi lawannya. Setelah bersorak bersama pemain di timnya, pemuda itu terbang kembali mendekatinya.

"Bisa tidak kau biarkan aku sendiri dulu?" protesnya galak.

"Kau berbeda sekali kalau sedang di atas sapu," ledek Shintarou. "Mana dirimu yang lemah lembut dan penuh santun? Tatanan rambutmu bahkan sudah acak-acakan sekarang."

"Bukan urusanmu," balas Akiko tanpa melepaskan kewaspadaannya mencari Snitch yang akan memberikan kemenangan pada timnya. Si bodoh itu malah mengungkit soal rambut. Memangnya rambut siapa yang akan tetap rapi jika ditiup angin sekencang ini? Lagi pula, Akiko tidak lagi peduli soal tata krama a la Jepang jika sedang bermain Quidditch. Di atas sapu terbangnya, ia bisa menjadi dirinya sendiri yang sesungguhnya tidak sefeminin pencitraannya yang biasa. Ia yakin, dalam darahnya memang mengalir darah pemain Quidditch seperti ayah dan kakak laki-lakinya.

Saat itulah Akiko kembali melihat apa yang dicari-carinya. Ia melirik ke arah Seeker lawan dan mendesah lega melihat orang itu sepertinya belum menyadari di mana Snitch berada. Akiko tersenyum senang. Binar matanya pun segera berubah—kembali fokus pada permainan. Shintarou? Ah, abaikan saja si bodoh satu itu.

"Jaa3," serunya sembari memelesat cepat ke arah tiang gawang di mana Snitch sedang terbang berputar-putar. Tubuhnya yang mungil seolah menyatu dengan sapu terbangnya, tampak bagai anak panah di mata orang-orang.

Beater lawan menyadari geraknya dan segera melontarkan Bludger ke arahnya.

Akiko mengulurkan tangan.

Bludger semakin dekat.

Namun Akiko dua detik lebih cepat. Tangannya mencengkeram Snitch dan ia berhasil menghindari Bludger tepat pada waktunya. Gadis itu mengacungkan tangannya yang memegang Snitch tinggi-tinggi. Senyum lebar terpatri di wajahnya. Sorakan membahana di tribun penonton. Teman-teman setimnya segera mengelilinginya dengan sorakan yang tak kalah kencang.

Ah, kemenangan memang terasa begitu manis.

1Baka: dasar bodoh
2Yamato Nadeshiko: sebuah istilah dalam bahasa Jepang yang merupakan personifikasi dari wanita Jepang yang ideal.
3Jaa: sampai nanti
Goto Top
 
Kazuhiko Inoue
Unregistered


Nama chara : Kazuhiko Inoue
Visualisasi : Nishikido Ryo
Email aktif : inoue.kazuhiko94@gmail.com



Inoue ojiisan tak penah lelah mengatakan jika Kazu akan menjadi beater hebat, sejak pertama kali melihat anak itu mengangkat pemukul dan menghantamkannya dengan ganas pada Bludger yang berdesing di atas kepala. Enam tahun usia Kazu saat itu.

Well. Well.

Diam-diam dia memikirkan ucapan kakeknya dengan serius.

Matahari masih malu-malu untuk muncul, pun kabut masih tebal menggelayut. Pemuda Inoue ini menyampirkan satu kaki dan meloncati perlahan gagang sapu yang sudah mengambang ke udara. Ia menjejak tanah dengan kedua kakinya, membuat sapu itu terangkat lebih tinggi. Pemukulnya berayun-ayun di tangan. Fokusnya menatap malas ke anak laki-laki lain yang sudah duluan berada di atas sana, terlihat tengah mengacungkan tongkat untuk menghentikan pergerakan dua bludger gila.

Kazuhiko menyeringai tipis. Tengik.

“Kau memasukkan ramuan tidur lagi di makan malamku, Sawada.”

Pemuda yang dimaksud nampak terkejut dan berbalik, kekehannya terdengar santai. Semestinya Kazu terkesan pada kesungguhan temannya itu, yang sejak subuh sudah duluan mengayunkan pemukul dengan giat. Tapi tidak, kau harus mendapatkan posisimu secara adil. Bukan dengan mencurangi.

“Aku hanya ingin kau istirahat,” sanggah Sawada, “kalau tidak begitu kau akan terus latihan sampai mimisan.”

Mereka ada berpuluh-puluh meter di atas tanah. Kazuhiko memegang erat ujung sapu dan menatap lurus ke sepasang orb si pemuda yang memiliki bekas luka di pipi kanan itu. Senyumnya tipis terkembang.

“Kau hanya takut aku akan menjadikan kepala besarmu sebagai sasaran lagi,” sambungnya. Matanya menatap sekilas pada dua bludger yang masih diam. “Gerakanmu mulai kaku.”

Sawada terbang mendekat, mengitarinya sekali sebelum berdiri di samping Kazuhiko. Tongkat Tamarind-nya teracung pada kedua bludger tersebut.

“Setelah ini akan ku buat dua bludger itu bergerak ke arah kita. Masing-masing harus pukul bola hingga ke tepi hutan sana. Anggap pohon bambu itu adalah lawan.”

Sudut bibirnya berkedut, Kazuhiko menolehkan kepala pada Sawada sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan. Matanya berkilat tajam.

Dua bludger mulai berdesing lagi.


“Siapa yang bisa mematahkan pohon, dia yang menang.”

Latihan yang bagus bukan?


Goto Top
 
Teraoka Mitsuji
Unregistered

Nama Chara : Teraoka Mitsuji
Visualisasi : Sen Mitsuji
Email : teraoka.tokoro@gmail.com




Langit di atas Iwo Jima yang ia sukai.

Langit itu sangat penuh sore ini. Seperti para pemeran dalam adegan dengan latas langit yang semakin sore semakin bertambah lakonnya. Juga adegan-adegan baru yang belum pernah ia lihat. Seperti camar yang berbenturan dengan gagak, atau awan yang mentransfigurasi diri sendiri menjadi baboon.

Ada waktu sepuluh menit untuk sekedar melamun sambil bersender di pagar kayu yang melintang di pinggir lapangan. Sepuluh menit yang tidak akan dilebih-lebihkan, karena besaran tanggung jawabnya kali ini berpuluh-puluh kali lebih besar dibanding minggu-minggu kemarin. Sial. Menjadi penanggung jawab latihan selama satu minggu manakala kapten mereka sibuk mengurus tugas akademiknya. Sungguh kampret memang.

Teraokaseumpama capung di atas bukit. Ia adalah sobat rerumputan dan kawan para serangga terbang. Hampir setiap sore kegiatannya adalah sama. Mengenakan seragam latihan, membuka peti peralatan dan mengkilapkan sebulat Snitch yang sesekali berkelepak. Ia adalah seorang pemain Quidditch sekolah sihir. Mahoutokoro telah usai melakukan seleksi bagi para calon pemain inti Quidditch untuk dipertandingkan dengan salah satu sekolah sihir di Eropa. Lelaki yang kini duduk bangku tingkat empat ini salah satu murid terpilih. Sekolah tidak pernah salah menentukan siapa-siapa yang berhak mengikuti kejuaraan untuk mewakili namanya. Prestasi, pengalaman serta rekomendasi.

Sore wa sore wa, kantan janaindeshou ne?![1]

Beberapa hitungan lagi. Teraoka berdiri di tengah-tengah lapangan. “Berkumpul!”Teng! tepat pukul empat, suaranya menggelegar, memimpin timnya lekas berkumpul lalu berbaris seperti biasa.

Toyohashi Tengu! Bukan lagi iming-iming untuk kita. Tinggal beberapa hari lagi latihan kita akan berakhir. Sekolah telah memilih kita, kita tunjukkan yang terbaik!”

Bisik-bisik terdengar.

”Ya, ya tukang mabuk. Lagi pula siapa dirimu.”


jJdDDAAK!

Peti bola Quidditch terbuka. Lelaki muda kelahiran Gifu itu mengambil Quaffle dan lekas membuka ikatan Bludger serta Snitch. Lantas terbang ke tengah-tengah lapangan. Haori untuk berlatih Quidditch adalah jubah yang telah dikondisikan untuk terbang, Mahoutokoro belum juga membiayai para pemain Quidditch sekolah ini untuk mendapatkan seragam berlatih yang pas.

(Agak sedikit sesak terutama di bagian leheriaakK!)

“HAJIME!” [2]

Tugasnya sendiri adalah sebagai seorang Chaser. Satu dari gelandang andalan tim Quidditch tingkat empat. Teraoka mencondongkan badannya, bersama sapu terbang nya, mengambil posisi di kanan, bentuk formasi yang sudah disusun kemarin-kemarin. “Satoshi! Ayunkan bat pemukulmu!”

bBBUGH!!

Yabeeyo!. Kau telat memberitahunya, Mitsuji!” ucap Aiko Tsubaki.

Tsk. Seharusnya dia yang mawas diri, desyou!Gembel, memang.

Maki Satoshi terkena Bludger, padahal dia sendiri adalah Beater, pawang para Bludger kesetanan.


[1] Itu tuh, tidak mudah bukan?
[2] Mulai!
Goto Top
 
Kagura Itoh
Unregistered

Nama: Kagura Itoh
Nam Visualisasi: Keiko Kitagawa
Alamat email: kagura.itoh@gmail.com


Pertengahan Juli 1814
Perairan Kawasan Iwo Jima Selatan


Sebagai seorang keturunan penyihir Itoh yang santer dengan kemurnian darah serta berbagai pencapaian baik bidang akademis maupun Quidditch, Kagura merasa beban sebagai kapten seolah makin berat. Disamping tekanan Ojii-sama[1] yang menginginkan jubahnya tetap berwarna keemasan, tekanan dari Tanaka-sensei[2] membuatnya harus tetap memasang tirai untuk dirinya sendiri. Kagura terlatih untuk memendam segala hal emosional yang biasanya dimiliki seorang gadis. Bahwa sesungguhnya seorang gadis sepertinya masih cukup beruntung dapat mengenyam pendidikan di sekolah megah, sebagai penyihir.

Meski sesungguhnya berjalan di pasar malam, merayakan musim panen dengan Ryuuji-kun adalah sebuah impiannya. Seandainya Ryuuji-kun bukan seorang penjaga istal kuda di istana keluarganya. Seandainya dirinya bukanlah penerus utama nama besar Itoh.

Di sinilah dirinya berakhir, lagi. Di atas perairan Iwa Jima Selatan saat ombak menjulang hingga pekarangan Mahoutokoro. Pertandingan persahabatan yang kelak akan digelar di Inggris sana membuatnya harus tetap berlatih bahkan di musim hujan.

"Minami-san! Kita tidak sedang bermain-main," tegurnya tepat saat pemuda yang berusia lima belas itu asal-asalan memukul Bludger. "Apakah kau tidak tahu jika murid Hogwarts tidak akan terpengaruh dengan pukulan lemahmu tadi?"

Sorot mata Kagura sudah biasa tajam. Ojii-sama telah membuat dirinya menjadi replika sang ayahdengan sangat baik. Shouji Minami tampak tidak suka dengan tegurannya. Tidak, tidak boleh ada yang meremehkan Kagura.Matanya makin memicing, "Kau mau kutendang keluar dari tim?"

Kagura tahu bahwa hanya Tanaka sensei yang berhak mengeluarkan anggota tim. Hanya saja, seluruh Mahoutokoro tahu bahwa ucapan Kagura bagai sebuah ketetapan. Tidak ada yang berani melawan, tidak bahkan Tanaka sensei. "Jika masih ingin bertahan, jadilah Beater yang lebih baik."

Kagura terbang melintasi ombak liar, kembali memacu kecepatan mata dan manuvernya. Snitch adalah benda yang sangat menjebak. Terlebih saat berada di atas samudera. Warna emas akan terlihat cukup bias akibat beberapa jubah emas yang tersandang gagah dalam formasi tim Quidditch sekolahnya. Satu kesalahan saja berdampak fatal. Lebih buruk dari sekadar kekalahan. Malu.

"Bagus Hino-san, Kinomoto-san, Fujiwara-san!" sekali tilik Kagura tahu bahwa formasi Chaser dalam timnya, adalah yang terbaik. Tidak seperti Keeper dan Beater yang tampak tidak cukup bersyukur berada di dalam kesatuan tim. Tidak boleh ada kesalahan dalam timnya. Satu orang saja yang mengacau, maka seluruh Mahoutokoro akan memandangnya sebagai pecundang. Hanya sebilah katana yang dapat membantunya merobek isi perut, sebagai peredam rasa malunya.

SWUUUTSS

Benda kecil itu melesat gesit di hadapan matanya. Gerakan indahnya, andalannya, kini kembali dipertontonkan. Sora no Seifuku-sha[3]. Manuver bergerak menghindari terjangan ombak tanpa ternoda setetes air pun, kecepatan yang bahkan dapat menandingi pukulan Bludger. Hitungan detik sejak matanya menangkap kilat kecil itu.

Owatta.[4]

"YAMEROOOO!!![5]" sebuah seruan menggelegar dari Tanaka-sensei. Latihan hari ini selesai dengan Snitch yang tertangkap oleh jemarinya yang terampil. Seluruh anggota berhenti dari kegiatannya, satu per satu terbang menuju lapangan Quidditch Mahoutokoro. Tidak butuh waktu lama untuk Kagura menapaki lapangan berpasir itu, bahkan dengan jarak yang lebih jauh dari teman-temannya.

Wajahnya mengeras. Kemajuan latihan tidak signifikan. Tidak cukup baik.

"Minna[6]," ucapnya, lugas dan dingin, "Kurasa kita perlu mengadakan uji coba ulang. Hogwarts akan menganggap kita sebuah lelucon jika bertanding seperti tadi." Langkahnya berjalan mendekati Tanaka-sensei yang berdiri dengan tegak menghadap semua anggota Quidditch. "Sensei, Beater dan Keeper perlu diuji coba ulang. Tim Chaser akan kulatih secara pribadi untuk menentukan kelayakan. Kita akan berikan kesempatan pada yang lain. Mungkin pertengah musim gugur."

"Kyou wa owari. Mata de, minna-san![7]" ucapnya memberikan sedikit penghormatan dengan merunduk sebelum berbalik meninggalkan lapangan. Sikap dinginnya menguar, perkataannya adalah keputusan mutlak. Tidak ada yang berani menentangnya. Tidak pula dapat menghalangi seorang Itoh sepertinya. Tidak bahkan Tanaka-sensei.
[1] Ayah, panggilan hormat superlatif
[2] Panggilan untuk guru
[3] Penakluk Langit
[4] Berakhir
[5] Berhenti!
[6] Kawan-kawan semuanya
[7] Hari ini latihan selesai. Sampai jumpa, semuanya!
Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Enjoy forums? Start your own community for free.
Go to Next Page
« Previous Topic · Aplikasi Chara · Next Topic »
Locked Topic