hit counter code
Welcome Guest [Log In] [Register]


News Update

Reminder

KALENDER NIH TERM 22

Kami mengingatkan sekali lagi kepada para member IndoHogwarts untuk tetap menyertakan terjemahan pada bahasa asing selain bahasa Indonesia dan tetap berada pada rating yang ditentukan.


Posted Image
Selamat datang di Forum Role Play Basis Teks
INDOHOGWARTS


Kami berharap kamu dapat menikmati kunjungan ini. Saat ini, kamu sedang meninjau Forum kami sebagai guest/tamu. Hal ini berarti area tinjauanmu terhadap board dan fitur-fitur yang dapat digunakan di dalam Forum ini masih sangat terbatas.

Registrasi dalam Forum ini bebas biaya, namun tahapannya tidak terlalu sederhana, kamu disarankan untuk membaca terlebih dahulu Registrasi dan Aplikasi sebelum mendaftar pada waktu yang telah ditentukan.

Jika kamu sudah menjadi member, silahkan log in ke dalam Akunmu untuk mengakses Forum.
Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Ceritakan Ceritamu; Term 20
Topic Started: Feb 11 2017, 02:37 PM (925 Views)
Waterlok

PERINGATAN!

Seluruh informasi dan konten berikut ini sepenuhnya adalah hasil ide, kreasi, pikiran dan Imajinasi Forum Role Play IndoHogwarts yang dipadukan dengan informasi yang diperoleh dari HPWiki. Segala penggunaan informasi di luar Forum ini adalah terlarang dan dapat dikenakan sanksi yang berat dan tegas oleh Admins Forum IndoHogwarts dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu (Ingatlah bahwa Forum IndoHogwarts dilindungi hukum).


Posted Image

Topik ini disediakan khusus bagi para calon Puppet Master (PM) Chara Dewasa IndoHogwarts, sebagai media untuk menunjukkan contoh tulisan role play sebagai menjadi salah satu syarat pendaftaran tahap 1 aplikasi Chara penyihir Dewasa. Sebelum membuat contoh tulisan chara anda, dimohon untuk memperhatikan beberapa hal berikut:


  • Perhatikan dan baca ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Garis-garis Besar Haluan NewIndohogwarts dan Panduan Aplikasi Chara Dewasa
  • Pastikan Anda telah memahami dan memenuhi semua kriteria dan syarat yang diberlakukan di dalam Forum NewIndoHogwarts sebelum mengajukan Aplikasi Chara Penyihir Dewasa NewIndoHogwarts.
  • Gunakan akun Guest untuk melakukan post di topik ini
  • Setiap satu chara (dan satu puppet master) cukup membuat dan mengunggah satu contoh tulisan satu kali sehingga satu tulisan yang masuk akan tercatat dengan satu alamat IP untuk kepentingan database.
  • Jangan lupa untuk mencantumkan nama chara anda dan nama visualisasi yang digunakan di pojok kiri atas contoh tulisan anda.
  • Usahakan contoh tulisan bisa menggambarkan dan memuat secara sekilas karakter atau sifat chara dan latar belakang kehidupan chara.
  • Buat tautan pada form aplikasi chara anda ke contoh tulisan anda disini

Pelangikan Imajinasimu!

Posted Image
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Guest
Unregistered

Nama Karakter: Lecky Williams Allison Wardlaw (56)
Nama Visualisasi: George Clooney



Sebuah surat lagi datang pagi ini, dengan tinta merah besar-besar.

Ia sudah merasa cukup lelah, sesungguhnya, dengan beberapa laporan dari salah satu cabang bisnisnya di daerah Mississippi. Tidak ada banyak perkembangan. No-maj tanpak terlalu banyak mengambil pengaruh terhadap monopoli dan menetapkan pajak sembarang. Dirinya bukan tak ingin langsung turun tangan. Tidak, menghadapi No-maj yang semena-mena bukan hal sulit.
Ia hanya merasa tak memiliki ambisi untuk melanjutkan bisnis itu. Tidak terlalu menguntungkan.

“Algún problema, mi amor?” [1]Lecky memandang pada istrinya yang datang bersama segelas ramuan dengan aroma menyejukkan, duduk di pangkuannya. Keahlian wanita itu sebagai ahli ramuan sangat menguntungkan baginya, secara pribadi. Ia tersenyum, mengambil gelas itu. Harum, selalu berhasil membuatnya tenang.

“Bisnis, seperti biasa. Wool tidak terlalu bagus di Mississippi,” jawabnya, sambil sesekali menghirup ramuan yang disajikan istrinya.

“Kau tahu, kau hanya perlu fokus. Kukira kau bisa datang langsung, memeriksanya dengan tanganmu sendiri,” ujar wanita berdarah latin itu, “Lagipula hal terbaik yang bisa kita buat adalah—“

“—apapun menggunakan tangan kita sendiri,” Lecky melanjutkan kata-kata istrinya dengan lengkung terkembang di wajahnya. Kalimat itu adalah kalimat dimana mereka akhirnya menemukan hati mereka, satu sama lain, nyaris dua belas tahun lalu. Saat itu usianya empat puluh empat. Meski dimakan usia, tak pernah sekalipun istrinya ini berpaling. Tak jarang resep rahasia keluarganya di Brazil sana membuatnya tampak selalu bugar. There’s luck he found in the deep of Soth America.[2]

“Don’t think too much, mi amor[3],” balas istrinya, tesenyum penuh kasih. “You can go. I will keep the kids safe[4].” Sentuhan lembut istrinya itu sungguh membuatnya terhanyut. Daya pikat seorang putri dari Kepala Klan Guttierez, sebuah organisasi keluarga penyihir besar yang ikut menyokong eksistensi Castelobruxo, memang tak pernah pudar. Resep rahasia keluarga mereka yang kaya tanaman sihir membuatnya tak dapat pergi jauh ketika melakukan perjalanan bisnis ke daerah Brazil. Pertukaran komiditi tanaman sihir dengan wool sekaligus ekspansi Klan Wardlaw. Berakhir pada pernikahannya dengan putri bungsu Guttierez.

Cintanya tak pernah pudar, bahkan hingga saat ini.

Then I will need you to prepare my needs[5],” lanjutnya. Perjalanan menuju Mississippi dan segala hal yang mungkin mengganggunya selama dua bulan perjalanan sudah terbayang. Setidaknya tidak akan terlalu berat dengan bekal istrinya. Bukan yang pertama kali, itu hal yang sudah pasti.

“Sure do, El Jerarca[6],” ia tertawa sejenak sebelum membenamkan bibir merah ranumnya pada wajah Lecky Williams. Sensasi yang tak pernah berubah selama lebih dari satu dekade. Membuatnya tak akan pernah berpaling. Barang satu kali pun.

“Bawa Pablo bersamamu. Edward akan menjaga Karl dan yang lain, jika mereka ingin jalan-jalan,” Estella beringsut dari dekapannya. “Kalau ada waktu kunjungi makam ibu dan sampaikan salamku pada Padre[7].”

Ralat, empat bulan kalau begitu.

“Sí mi reina.”[8]

Ah, ia akan rindu wajah dan senyum itu lagi.

Empat bulan tak akan lama, Lecky. Tak akan.
[1] Ada masalah, sayang?
[2] Keberuntunganlah yang ia temukan di pedalaman Amerika Selatan
[3] Jangan berpikir terlalu keras, sayang
[4] Kau boleh pergi. Aku akan menjaga anak-anak
[5] Kalau begitu aku butuh dirimu untuk mempersiapkan semua kebutuhanku
[6] El Jerarca: Panggilan untuk pemimpin, di daerah Amerika Latin
[7] Padre: Panggilan untuk ayah, Bahasa Spanyol
[8] Tentu, ratuku
Quote Post Goto Top
 
Lecky Wardlaw
Unregistered

Nama Karakter: Lecky Williams Allison Wardlaw (56)
Nama Visualisasi: George Clooney




Sebuah surat lagi datang pagi ini, dengan tinta merah besar-besar.

Ia sudah merasa cukup lelah, sesungguhnya, dengan beberapa laporan dari salah satu cabang bisnisnya di daerah Mississippi. Tidak ada banyak perkembangan. No-maj[1] tanpak terlalu banyak mengambil pengaruh terhadap monopoli dan menetapkan pajak sembarang. Dirinya bukan tak ingin langsung turun tangan. Tidak, menghadapi No-maj yang semena-mena bukan hal sulit.

Ia hanya merasa tak memiliki ambisi untuk melanjutkan bisnis itu. Tidak terlalu menguntungkan.

“Algún problema, mi amor?” [2]Lecky memandang pada istrinya yang datang bersama segelas ramuan dengan aroma menyejukkan, duduk di pangkuannya. Keahlian wanita itu sebagai ahli ramuan sangat menguntungkan baginya, secara pribadi. Ia tersenyum, mengambil gelas itu. Harum, selalu berhasil membuatnya tenang.

“Bisnis, seperti biasa. Wool tidak terlalu bagus di Mississippi,” jawabnya, sambil sesekali menghirup ramuan yang disajikan istrinya.

“Kau tahu, kau hanya perlu fokus. Kukira kau bisa datang langsung, memeriksanya dengan tanganmu sendiri,” ujar wanita berdarah latin itu, “Lagipula hal terbaik yang bisa kita buat adalah—“

“—apapun menggunakan tangan kita sendiri,” Lecky melanjutkan kata-kata istrinya dengan lengkung terkembang di wajahnya. Kalimat itu adalah kalimat dimana mereka akhirnya menemukan hati mereka, satu sama lain, nyaris dua belas tahun lalu. Saat itu usianya empat puluh empat. Meski dimakan usia, tak pernah sekalipun istrinya ini berpaling. Tak jarang resep rahasia keluarganya di Brazil sana membuatnya tampak selalu bugar. There’s luck he found in the inland South America.[3]

“Don’t think too much, mi amor,” [4]balas istrinya, tesenyum penuh kasih. “You can go. I will keep the children safe.”[5] Sentuhan lembut istrinya itu sungguh membuatnya terhanyut. Daya pikat seorang putri dari Kepala Klan Guttierez, sebuah organisasi keluarga penyihir besar yang ikut menyokong eksistensi Castelobruxo, memang tak pernah pudar. Resep rahasia keluarga mereka yang kaya tanaman sihir membuatnya tak dapat pergi jauh ketika melakukan perjalanan bisnis ke daerah Brazil. Pertukaran komiditi tanaman sihir dengan wool sekaligus ekspansi Klan Wardlaw. Berakhir pada pernikahannya dengan putri sulung Guttierez.

Cintanya tak pernah pudar, bahkan hingga saat ini.

“Then I will need you to prepare my needs,”[6] lanjutnya. Perjalanan menuju Mississippi dan segala hal yang mungkin mengganggunya selama dua bulan perjalanan sudah terbayang. Setidaknya tidak akan terlalu berat dengan bekal istrinya. Bukan yang pertama kali, itu hal yang sudah pasti.

“Sure do, El Jerarca,”[7] ia tertawa sejenak sebelum membenamkan bibir merah ranumnya pada wajah Lecky Williams. Sensasi yang tak pernah berubah selama lebih dari satu dekade. Membuatnya tak akan pernah berpaling. Barang satu kali pun.

“Bawa Pablo bersamamu. Edward akan menjaga Karl dan yang lain, jika mereka ingin jalan-jalan,” Estella beringsut dari dekapannya. “Kalau ada waktu kunjungi makam ibu dan sampaikan salamku pada Padre.”[8]

Ralat, empat bulan kalau begitu.

“Sí mi reina.”[9]

Ah, ia akan rindu wajah dan senyum itu lagi.

Empat bulan tak akan lama, Lecky. Tak akan.
[1] Panggilan untuk manusia non-penyihir di daerah Amerika
[2] Ada masalah, sayang?
[3] Keberuntunganlah yang ia temukan di pedalaman Amerika Selatan.
[4] Jangan berpikir terlalu keras, sayang
[5] Kau boleh pergi. Aku yang akan menjaga anak-anak
[6] Kalau begitu aku butuh dirimu untuk mempersiapkan semua kebutuhanku
[7] Tentu, Ketua. (El Jerarca: Panggilan untuk pemimpin, di daerah Amerika Latin)
[8] Padre: Panggilan untuk ayah, Bahasa Spanyol
[9] Tentu, ratuku
Quote Post Goto Top
 
Maria Kay
Unregistered

Lady Maria Theresa Cunningham-Kay
Catherine Elise Blanchett


Marie menyusuri koridor kediamannya yang sekarang tampak remang. Banyak pencahayaan di matikan, mengingat ini pun sudah larut malam. Foto-foto berpigura emas yang menunjukan potret dari generasi ke generasi memberikan senyum ketika wanita itu lewat, dan dengan cahaya lilin yang menciptakan bayangan panjang di belakangnya, wanita paruh baya itu melangkah dalam keanggunan.

Berhenti di sebuah pintu ganda tinggi dengan gagang pintu emas yang memantulkan bayangan wajahnya, Marie menarik nafasnya dalam. Pasalnya, pembicaraannya dengan anak perempuannya satu-satunya yang baru saja dilakukannya sedikit membebani pikirannya. Membicarakan dengan sang suamipun tak lantas membuat Marie berpikir bahwa itu adalah keputusan yang tepat.

Tidak, saat suaminya tampak begitu sibuk bekerja belakangan ini.

Suara pintu yang didorongnya terbuka, menampilkan sebuah ruangan besar dengan jendela-jendela tinggi dan sofa-sofa bermotif renaisans. Ada pintu di ujung kanan ruang duduk ini, pintu yang tertutup, yang merupakan kamar tempatnya tidur. Sementara pintu di sebelah kiri ruangan terbuka, cahaya dari dalam menyusup keluar yang seperti sudah di duga Marie. Dalam tenangnya, wanita itupun menuju pintu yang terbuka itu, dan melangkah masuk ke dalamnya.

Suaminya, sang Abraham Kay yang tersohor, tengah tertunduk di atas berlembar-lembar perkamen, sementara tangannya yang menggenggam pena bulu menari di atasnya. Marie menghela nafasnya lagi, dia selalu tak suka jika suaminya bekerja begitu keras.

“Abe,” ujarnya lembut, menghampiri sang suami yang hanya bergumam untuk menyambutnya, sementara matanya tak lepas dari perkamennya. Mengambil selimut di atas sofa di ujung ruangan, Marie menyampirkannya pada bahu pria di depannya itu. “Abe, ini sudah terlalu larut.” Ujarnya lagi, sarat dengan peringatan.

”Sedikit lagi, Maria, sedikit lagi. Aku harus menyelesaikan ini malam ini.”

“Tidak, kau bisa menyelesaikan itu besok. Ini sudah terlalu larut.” Ulangnya, menyentuh tangan Abraham Kay yang tengah memegang pena bulunya. “Kau harus istirahat, Abe.”

”Aku selalu bertanya-tanya, mengapa aku tidak pernah bisa melawan kata-katamu.”

“Karena aku bukan musuhmu.” Marie tertawa, dan menarik suaminya untuk berdiri. Menuntunnya ke kamar mereka. “Aku selalu menjadi sekutumu, Abe, kau selalu tahu itu.”

”Yah, mungkin kau benar.”

“Aku bersungguh-sungguh, Lord Kay.” Marie tersenyum, dan menularkannya kepada Abe.

Pikirnya, Abraham terlalu lelah hari ini, mungkin dia bisa menceritakan soal Louie besok saja, saat mereka sarapan.
Quote Post Goto Top
 
Ilia Dolans
Unregistered

Nama Karakter: Ilia Alan Richard Dolans (32)
Nama Visualisasi: James 'Jamie' Dornan


Ilia beringsut menuju ke tepian jendela yang bergorden puting bersulam benang berwarna keperakan. Tubuhnya disandarkan ke dinding batu dengan mata yang terus bergulir mengamati jalanan pagi yang kian penuh. Ilia mengisak, menghirup udara pagi yang buatnya berbau amis, jalanan London kian banyak manusia kumuh yang mungkin keringatnya kental penuh kotoran seperti liur Carrot―anjing jenis corgi miliknya. Dia sering sumpah serapah ketika keluar dari rumahnya yang di London dia harus menunggu karena hiruknya jalanan London. Well, dia sendiri yang memilih untuk meninggalkan tempat tinggalnya di Antrim (Belfast) dan memilih tinggal di London. Ma melarang keras, namun Ilia beralasan atas nama tuntutan pekerjaan―dia seorang dokter.

Hmm?

"Heiy, kau!"

Dia tidak sendiri di ruang prakteknya di lantai dua, Netta Dolans―yang sesungguhnya adalah putri kandungnya sendiri, diteriakinya untuk mendekat. Jari telunjuk serta gestur dagunya mengacung ke arah sudut kaca yang masih nampak buram. Tanpa pikir panjang, Nina lantas datang dengan membungkuk untuk membersihkannya. Ilia Dolans, seorang pemuja kesempurnaan. Dan puteri kandung yang ada di hadapannya itu adalah satu-satunya kecacatan yang dia miliki. Ilia menganggap puteri kandungnya-lah yang menjadi penyebab kematian orang yang paling dicintainya. Sehingga ketika dia ditinggal oleh Sarah―mendiang istrinya, dia sama sekali tidak mau menjenguk Netta, puteri kandungnya sendiri.

Alasan utama kebenciannya itu sederhana, ulang tahun Netta adalah hari kematian istrinya, dia benci karena itu. Dia berusaha membuang puterinya, hanya Ma dan Da yang menghalangi niatannya itu, sampai Ilia mengambil keputusan untuk meninggalkan segala sesuatu yang bersinggungan dengan dunia sihir dan pergi bersekolah di Oxford untuk menjadi seorang dokter, tanpa tahu menahu kabar dari Netta. Dia mengikhlaskan Netta untuk tetap tinggal di dalam keluarganya, dengan tanpa memberi tahu kalau dia adalah ayah kandungnya. Netta hanya mengetahui dia adalah anak yatim piatu dari satu keluarga jauh Dolans, sedangkan statusnya di keluarga adalah anak pungut yang wajib membantu bersih-bersih.

Delapan tahun Ilia pergia meninggalkan Belfast untuk belajar di Oxford (setahun setelah kematian istrinya). Dia jarang pulang ke Belfast dan libur musim dingin pun dia habiskan di rumah dengan syarat Netta pun diliburkan dan dititipkan ke salah satu pembantu.

"Bersihkan kaca itu!" Suaranya di perlambat, dia bosan sesungguhnya dengan keberadaan bocah ingusan satu ini. Well, Ma memintanya untuk ikut ke London, dan Ilia jujur kadang menikmati kalau dia harus mempersulit hidup orang yang mengambil nyawa istrinya itu. Tatapannya berganti kembali ke arah jendela dan melihat sebuah kereta kuda datang ke depan pintunya, lantas dia melirik ke arah jam dan dilihatnya pukul sembilan kurang lima. Dia memang ada janji dengan salah satu putri keluarga Ruttenberg yang terkena flu dan memintanya untuk segera diobati.

"Kau minggir, cepat siapkan air panas untuk membuat teh."

Ilia Dolans melangkah menuju kursi prakteknya sambil mencari catatan tentang latar belakang kesehatan Miss. Ruttenberg yang sering terkena flu.

"He?"

Tatapnya sengit menatap ke arah Netta.

"Kenapa kau masih disini? Kau mengelap kacanya nanti saja, cepat kau bilang ke belakang untuk segera menyiapkan secangkir teh."

Putrinya itu membungkuk―gestur pamit, lantas buru-buru ke dapur untuk mengabari Irene agar menyiapkan teh ketika tamu sekaligus pasiennya itu datang.
Quote Post Goto Top
 
Ephraim Thorpe
Unregistered

Nama Karakter: Ephraim Oriel Thorpe
Nama Visualisasi: Blu Equis

Gemuruh petir beradu garang dengan ruah hujan. Langit yang semula kelabu membisu kini liar meronta bagai makhluk buas yang terhasut ceracam. Berpasang-pasang tungkai mulai belingsatan berlarian mencari teduh sambil meraungkan beragam umpat dan kutukan yang terpecah gelegar membahana; membanjiri jalanan sempit di pinggiran kota London itu dengan keriuhan kecil yang tidak lagi asing.

Di sudut jalanan itu, bersemuka dengan gerai barang antik yang tampak lebih arkais dari barang-barang yang ada di dalamnya, sang pemuda meringkuk dan menggigil. Menggigil bukan saja oleh cengkeraman udara dingin, tetapi juga rasa takut yang mengaduk-aduk isi perutnya. Rasa takut yang tidak pernah ingin diakuinya. Giginya turut bergemeletuk segaduh degub jantungnya dan napasnya gelagapan mengikat gusar yang tidak bisa diuraikan kata.

Ia tak berdaya.

Sang pemuda menarik jubahnya lebih erat ke tubuhnya, berharap satu-satunya pakaian luar yang menudunginya itu dapat melindunginya dari kegentarannya. Ia benci merasa tidak berdaya. Ia benci harus terbungkam oleh ketakutan. Ia benci bagaimana dalam sekejap, nasib dapat membalikkan kehidupan menjadi mimpi buruk yang tak menyisakan secercahpun kebanggaan dan kejayaan dari masa lampau.

Air matanya berjatuhan tak terbendung; bersilaju dengan renjisan hujan yang meleleh dari dahinya. Sebelah tangannya mencekuh saku jubahnya dan menarik secarik perkamen yang goresan tintanya telah luntur. Pandangannya untuk beberapa saat tercegat pada perkamen itu sementara derai hujan terus mengguyur sekujur tubuhnya, dan semakin memudarkan tulisan yang tertera di sana.

Harapan terakhirnya...

Pemuda itu menggigit bibir dan meremas perkamen itu, sebelum kembali terenyak ke dalam keputusasaannya. Rasa malu pun perlahan-lahan mulai menggerayangi sukmanya.

Ia adalah Ephraim Oriel Thorpe. Putera kebangaan keluarga terhormat Thorpe yang tersohor di Widgeon Marsh. Anak didik terbaik sepanjang karir guru pribadinya. Pemuda cemerlang yang terkenal akan aspirasi dan ambisinya yang mengawang melebihi batas langit. Sosok yang diharapkan dapat melanjutkan kejayaan klan Milnethorpe... Dan ia adalah Ephraim Oriel Thorpe. Pemuda malang yang kini meringkuk tak berdaya di suatu sudut kota asing, tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya, terbengkalai, dan benar-benar seorang diri. Ia merasa gagal. Dan ia membenci dirinya karenanya.

"Apakah kau baik-baik saja?"


Sebersit suara terdengar menantang deruan hujan.

Ephraim bergeming, tidak berani menengadah. Hal terakhir yang diinginkannya saat ini ialah seseorang yang mendapatinya dalam keadaan rapuh, dengan kedua mata yang memerah dan perih.

"H..hey? Dapatkah kau mendengarku?"


Suara itu lagi. Kini dengan nada khawatir bercampur iba yang lebih kentara. Agaknya datang dari seorang perempuan muda berjubah hujan lembayung yang berdiri di hadapannnya.

Memalukan. Sungguh memalukan.

Ephraim membuang pandangannya. Tidak akan pernah, tidak akan pernah sekalipun ia membiarkan dirinya dikasihani oleh seseorang. Terlebih perempuan—dan seorang muggle.

Sebelum perempuan 'muggle' di hadapannya itu melakukan manuver simpatik lain kepadanya, ia dengan lekas meraih tas bepergiannya, bangkit dari ringkukannya dan dengan gegas beranjak, berlari menuju ke tujuan yang entah ke mana.

Meski basah kuyup tersimbah hujan, setidaknya ia tidak tenggelam dalam rasa iba orang lain.
Quote Post Goto Top
 
Charles Allenton
Unregistered

Nama Karakter : Charles Allenton
Nama Visualisasi : Brad Pitt



Pria itu masih duduk di balik meja kerja kayu cokelat dengan berkas-berkas perkamen terbuka. Gulungan demi gulungan masih terikat oleh pita-pita berwarna-warni. Beberapa botol tinta hitam dan pena bulu tergeletak tidak rapi menimbulkan bercak hitam di sana-sini. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam di jam saku, tapi Charles masih menulisi perkamen ditemani oleh lentera di sudut meja.

Sebuah surat telah tiba dikirim dari atas kapal menuju India. Kabar bahwa kondisi di atas kapal terdengar sama buruknya dengan kondisi di daratan. Mereka membutuhkan bala bantuan sesegera mungkin. Pasukan pelindung dan beberapa bahan makanan akan dilipatgandakan untuk dikirim menyelamatkan kapal Aileen. Transportasi udara harus disiapkan segera dan Charles harus mulai menulis surat permohonan izin kepada Departemen Perhubungan dan Lycra Wardlaw untuk menerbangkan permadani besar dalam keadaan darurat, ia lakukan paralel. Beberapa permadani dan penunggang sapu terbang sudah pergi saat Charles menyelesaikan suratnya.

"Jhon." Panggil Charles pada pelayan setia yang menunggu di depan ruangan. Pria paruh baya segera muncul dengan sikap siaga.

"Tolong antarkan." Ia menyerahkan beberapa gulungan perkamen untuk diterbangkan oleh beberapa burung hantu milik balai kota Fort William.

"Baik, Sir. Dan apakah Anda menginginkan teh hangat seperti biasa?"

Charles mengangguk cepat lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada perkamen kosong lain di atas meja kerjanya. Jari-jarinya perlahan menyisir rambut pirang ke belakang, gerakan yang selalu ada saat Charles tengah memikirkan sesuatu dengan detil. Pekerjaannya masih banyak menumpuk, seperti tidak ada habisnya masalah bermunculan. Sebenarnya ia merasa kasihan pada Marie yang nyaris selalu ditinggal setiap malam, tapi Charles masih ingin mengedepankan tanggung jawabnya.

Ketika John akhirnya datang membawa secangkir teh, Charles menghentikan pekerjaannya. Ia menaruh pena bulu dan mengalihkan perhatiannya pada teh hangat yang tersedia. Dikeluarkannya ramuan penguat buatan sendiri dari dalam laci meja kerja, untuk menguatkan badan yang terdiri dari campuran darah salamander dan bubuk cakar Griffin. Sekejap Charles meminum dalam satu teguk dari botol kecil milik pribadi barulah ia mulai menyesap teh hangatnya perlahan. Air hangat dan ramuan segera bekerja, mengasah perut dan memanasi sekujur badannya hingga mengeluarkan hela nafas panjang.

Richard...

Andai kau masih di sini.


Perlahan ia meletakkan kembali cangkir teh bersamaan dengan mengembalikan pikiran warasnya ke atas perkamen setengah isi.
Quote Post Goto Top
 
Carrick Frobisher
Unregistered

Nama Karakter: Carrick Frobisher
Nama Visualisasi: Jim Sturgess



“Hanya segini?” kening pria dua puluh tujuh tahun itu berkerut pada dua karung terigu dan dua krat telur yang dijajarkan di ambang pintu. Setengah dari apa yang dia pesan. Carrick memandang dengan tatapan menuntut pada Jeb si tukang antar, seorang pemuda kurus yang berkali-kali menggigit bibirnya.

”Bos bilang cuma ada segini,” pemuda itu menjawab takut-takut. ”Bagi-bagi jatah dengan yang lain.”

Si pria menghela napas. Mau marah pun tidak bisa membuat pesanannya jadi lengkap. Di belakang kepalanya, Carrick tahu pemuda ini hanya pegawai kelas bawah yang tidak tahu apa-apa di luar perintah majikannya. Dia beruntung suplainya masih terjaga meski datangnya sudah tidak teratur dan lebih sering tidak lengkap. Dengan satu ayunan tongkat, karung terigu dan krat telur itu melayang tanpa beban menuju gudang di bagian belakang. Carrick memberi isyarat pada si pemuda untuk mengikutinya masuk.

“Ini,” Carrick mengulurkan tiga keping Galleon dari laci uang di konter. Si pemuda memasukkannya ke kantung mokeskin, usaha sang majikan dalam rangka mengamankan uang pembayaran agar tidak dijambret gelandangan―atau dikutil pegawainya. “Dan bisakah kau sampaikan pada Mr. Cobb agar memberitahuku segera bila pengiriman akan terlambat lagi?”

Pemuda itu mengangguk cepat sambil tak henti meminta maaf. Selarik senyum pria itu tertarik samar. “Tidak apa, bukan salahmu,” dia menepuk puncak kepala Jeb ringan. “Semua orang sedang susah. Aku mengerti itu.”

Jeb meringis. Kata-kata Carrick barusan hanya menggambarkan permukaan dari kondisi beberapa bulan belakangan. Sepanjang jalan tak henti dia waswas barang antarannya dijambret orang. Sejauh ini sudah terjadi tiga kali dan dia harus membayar dari potongan gajinya yang memang tidak seberapa banyak itu.

“Tunggu sebentar,” Carrick kembali berujar. Dia mengemas dua papan roti yang masih mengepul ke dalam kantung kertas. Jeb membelalak terkejut ketika Carrick menyodorkan kantung kertas itu padanya, kebingungannya terlihat nyata.

“Untukmu,” senyum samar itu muncul lagi.

”Tapi… tapi… saya tidak bisa bayar, Sir,” ujarnya terbata-bata.

“Tidak apa. Ambillah. Untuk makan bersama keluargamu.”

Bahu si pemuda bergetar menahan tangis. Kata terima kasih tak putus-putus dia ucapkan, yang hanya dibalas sebuah senyuman dan tepukan di puncak kepalanya lagi. Butuh beberapa menit bagi Jeb untuk kembali tenang sebelum dia benar-benar pamit, kali ini dengan cengiran lebar dan langkah-langkah mantap.

Siang yang semakin merayap hanya ditandai oleh detak lengan-lengan jam yang terus berputar, karena langit masih sama muramnya dan udara musim dingin masih sama membekukan. Tongkat cedarnya kembali terayun, menggerakkan sapu dan lap perca yang menggosok jendela etalase sementara ia menata roti-roti yang tidak seberapa banyak di rak. Sudah beberapa bulan rak-rak itu hanya terisi tiga perempat paling banyak. Terkadang malah, ada hari di mana Carrick terpaksa menutup tokonya karena dia sudah kehabisan bahan baku.

Berjalan ke balik konter, surat di tumpukan paling atas tertangkap pandangan matanya. Surat dari sekolahnya dulu, menawarkannya posisi sebagai pengajar Kutukan dan Guna-Guna di sana. Di bawahnya ada surat dari kakak laki-lakinya yang dikirim menggunakan pos Muggle, memintanya untuk kembali ke Massachusetts. Sedang sama-sama paceklik tapi setidaknya kita masih dapat matahari di sini, begitu Tearlach berujar.

Carrick menghela napas panjang, memijat tulang alisnya. Ini bukan surat pertama dari Ilvermony maupun keluarganya yang meminta Carrick kembali ke Amerika. Sayangnya bagi Carrick, bab kehidupannya di Amerika sudah selesai. Bab yang pendek, penuh ketegangan dan kegembiraan yang meluap-luap, dan berakhir dengan kepedihan tak terperi di malam Natal berdarah tujuh tahun lalu.

Dia berjalan menuju pintu, mendorongnya hingga terbuka. Papan bertulisan ‘Buka’ dibalik.

“Selamat datang, selamat datang! Roti barley hanya empat knut, stottie enam knut, kue oat sepuluh knut sebungkus! Masih hangat, baru dipanggang! Jangan sampai kehabisan!”

Bab kehidupannya yang sekarang di sini, di sepetak toko kecil di pojok Diagon Alley. Mungkin hingga kematiannya entah kapan nanti.
Quote Post Goto Top
 
Guest
Unregistered

Nama Karakter: Fitzgerald Robert Buckingham
Nama Visualisasi: David Gandy


Matahari masih tertidur pulas, saat Fitzgerald terjaga dari tidurnya. Jubah sutra merah tua ia raih perlahan, menutupi tubuhnya yang setengah telanjang. Tirai abu yang lebar disikapnya dengan satu gerakan, membawa tatapnya menembus jendela kaca yang bening. Hamparan laut menyambutnya kala itu, menjernikan pikiran kelabunya yang kusut, kemudian ia buka jendela itu dan membiarkan angin dingin menyentuh kulitnya yang kecoklatan. Fitzgerald berdiam seperti itu lebih dari satu jam, memandang kosong, tanpa sepata katapun.

Sebuah pergerakan dari ranjang yang berantakan berhasil mencuri atensi Fitzgerald, ujung matanya melirik ke arah tersebut, mendapati seorang gadis cantik dalam balutan gaun tidur tipis telah bangun dari tidur lelapnya. Tidak begitu menarik untuk diperhatikan lama-lama, Fitzgerald kembali kepada hamparan laut yang seolah merayunya untuk tetap menatapnya saja. Sayang, Fitzgerald bukan tipe laki-laki yang mampu hanya melihat ke satu arah saja.

Jemari halus berwangi lavender menyentuh dadanya yang terbuka, tanpa izin atau peringatan. Iris sendu Fitzgerald menatap si empunya jemari, gadis cantik bermata biru terang sewarna dengan lautan Portree. Gadis itu tersenyum manis, memberikan segelas red wine ke dalam tangan Fitzgerald, kemudian bergerak lincah masuk dalam pelukan Fitzgerald. Laki-laki tigapuluh sembilan tahun itu menyeringai sekilas, lalu meneguk winenya sekali.

"Apa yang mengganggu pikiran Anda, Sir?" Tidak ada gadis yang memiliki suara lebih indah dari suara gadis bermata biru ini. Fitzgerald menyukai tiap kali suara-suara manja tercipta dari bibir sang gadis, sebuah karya seni yang patut dihargai mahal oleh orang seperti Fitzgerald. Kali ini, giliran jemari Fitzgerald yang bergerak tanpa izin, menyentuh pipi gadis itu, dengan seringai tajam di wajahnya. "Bukankah, kau harusnya tahu bahwa hal itu bukan urusanmu, My Dear?" Tutur Fitzgerald dingin, sembari melepas pelukan gadis tersebut.

Buckingham Landing, semakin berantakan. Tidak bisa dipungkiri, hal ini sangat mengusik hati dan pikiran Fitzgerald. Jangan salahkan ia atau keluarga di generasinya. Salahkan cuaca dan perubahan iklim yang tidak bersahabat, juga para lintah kampung yang diam-diam mengisap darah dari bawah kaki Fitzgerald. Pencuri-pencuri tidak tahu diuntung, yang masih saja meminta lebih ketika Fitzgerald telah cukup bermurah hati untuk memberikan sedekah pada mereka. Laporan Adelaide Buckingham mengenai para pekerja landing yang mencuri dari saku Fitzgerald benar-benar membuatnya murkah, hingga tak bisa lagi berkata-kata. Tepat setelah ia menerima laporan tersebut, dibakarnya satu gubuk di landingnya, sebagai peringatan awal bahwa ia―Fitzgerald Buckingham tidak akan segan mengeluarkan api dari tongkatnya untuk memanggang mereka yang berkhianat padanya.

Setelan jasnya telah terpasang, mataharipun mulai menunjukkan dirinya, petanda bahwa ia harus segera kembali. Ia bukanlah versi laki-laki dari dongeng muggle yang mereka sebut Cinderella, melainkan seorang suami, ayah, dan pemegang kendali utama Buckingham Landing. Sudah seharusnya, sosok seperti dirinya tidak bermain lama-lama di luar rumah. Ia meraih mantelnya di sudut sofa, membawanya dengan sebelah tangan, sembari berjalan meninggalkan kamar tersebut. Tepat sebelum langkahnya meninggalkan kamar, Fitzgerald meletakkan beberapa koin emas di meja kayu tua dekat pintu keluar.

"Tuan, mau kemanakah Anda pagi-pagi buta seperti ini?

Langkah Tuan Besar Buckingham terhenti, tidak menolah, hanya menyeringai kecil, lalu menggeleng pelan. "Menemui istri-istriku, My Dear." Ucapnya pelan, lalu suara langkahnya kembali terdengar, hingga akhirnya samar-samar menghilang di balik koridor Penginapan Rode Orm.
Quote Post Goto Top
 
Fitzgerald Buckingham
Unregistered

Nama Karakter: Fitzgerald Robert Buckingham
Nama Visualisasi: David Gandy


Matahari masih tertidur pulas, saat Fitzgerald terjaga dari tidurnya. Jubah sutra merah tua ia raih perlahan, menutupi tubuhnya yang setengah telanjang. Tirai abu yang lebar disikapnya dengan satu gerakan, membawa tatapnya menembus jendela kaca yang bening. Hamparan laut menyambutnya kala itu, menjernikan pikiran kelabunya yang kusut, kemudian ia buka jendela itu dan membiarkan angin dingin menyentuh kulitnya yang kecoklatan. Fitzgerald berdiam seperti itu lebih dari satu jam, memandang kosong, tanpa sepata katapun.

Sebuah pergerakan dari ranjang yang berantakan berhasil mencuri atensi Fitzgerald, ujung matanya melirik ke arah tersebut, mendapati seorang gadis cantik dalam balutan gaun tidur tipis telah bangun dari tidur lelapnya. Tidak begitu menarik untuk diperhatikan lama-lama, Fitzgerald kembali kepada hamparan laut yang seolah merayunya untuk tetap menatapnya saja. Sayang, Fitzgerald bukan tipe laki-laki yang mampu hanya melihat ke satu arah saja.

Jemari halus berwangi lavender menyentuh dadanya yang terbuka, tanpa izin atau peringatan. Iris sendu Fitzgerald menatap si empunya jemari, gadis cantik bermata biru terang sewarna dengan lautan Portree. Gadis itu tersenyum manis, memberikan segelas red wine ke dalam tangan Fitzgerald, kemudian bergerak lincah masuk dalam pelukan Fitzgerald. Laki-laki tigapuluh sembilan tahun itu menyeringai sekilas, lalu meneguk winenya sekali.

"Apa yang mengganggu pikiran Anda, Sir?" Tidak ada gadis yang memiliki suara lebih indah dari suara gadis bermata biru ini. Fitzgerald menyukai tiap kali suara-suara manja tercipta dari bibir sang gadis, sebuah karya seni yang patut dihargai mahal oleh orang seperti Fitzgerald. Kali ini, giliran jemari Fitzgerald yang bergerak tanpa izin, menyentuh pipi gadis itu, dengan seringai tajam di wajahnya. "Bukankah, kau harusnya tahu bahwa hal itu bukan urusanmu, My Dear?" Tutur Fitzgerald dingin, sembari melepas pelukan gadis tersebut.

Buckingham Landing, semakin berantakan. Tidak bisa dipungkiri, hal ini sangat mengusik hati dan pikiran Fitzgerald. Jangan salahkan ia atau keluarga di generasinya. Salahkan cuaca dan perubahan iklim yang tidak bersahabat, juga para lintah kampung yang diam-diam mengisap darah dari bawah kaki Fitzgerald. Pencuri-pencuri tidak tahu diuntung, yang masih saja meminta lebih ketika Fitzgerald telah cukup bermurah hati untuk memberikan sedekah pada mereka. Laporan Adelaide Buckingham mengenai para pekerja landing yang mencuri dari saku Fitzgerald benar-benar membuatnya murkah, hingga tak bisa lagi berkata-kata. Tepat setelah ia menerima laporan tersebut, dibakarnya satu gubuk di landingnya, sebagai peringatan awal bahwa ia―Fitzgerald Buckingham tidak akan segan mengeluarkan api dari tongkatnya untuk memanggang mereka yang berkhianat padanya.

Setelan jasnya telah terpasang, mataharipun mulai menunjukkan dirinya, petanda bahwa ia harus segera kembali. Ia bukanlah versi laki-laki dari dongeng muggle yang mereka sebut Cinderella, melainkan seorang suami, ayah, dan pemegang kendali utama Buckingham Landing. Sudah seharusnya, sosok seperti dirinya tidak bermain lama-lama di luar rumah. Ia meraih mantelnya di sudut sofa, membawanya dengan sebelah tangan, sembari berjalan meninggalkan kamar tersebut. Tepat sebelum langkahnya meninggalkan kamar, Fitzgerald meletakkan beberapa koin emas di meja kayu tua dekat pintu keluar.

"Tuan, mau kemanakah Anda pagi-pagi buta seperti ini?

Langkah Tuan Besar Buckingham terhenti, tidak menolah, hanya menyeringai kecil, lalu menggeleng pelan. "Menemui istri-istriku, My Dear." Ucapnya pelan, lalu suara langkahnya kembali terdengar, hingga akhirnya samar-samar menghilang di balik koridor Penginapan Rode Orm.
Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums with no limits on posts or members.
Learn More · Register Now
Go to Next Page
« Previous Topic · Aplikasi Chara · Next Topic »
Add Reply