hit counter code
Welcome Guest [Log In] [Register]


News Update

Reminder

KALENDER NIH TERM 26

Kami mengimbau kepada seluruh member New Indo Hogwarts untuk tetap menyertakan terjemahan pada bahasa asing yang digunakan dan menggunakan warna abu-abu untuk quote dan mengutip dialog.


Posted Image
Selamat datang di Forum Role Play Basis Teks
INDOHOGWARTS


Kami berharap kamu dapat menikmati kunjungan ini. Saat ini, kamu sedang meninjau Forum kami sebagai guest/tamu. Hal ini berarti area tinjauanmu terhadap board dan fitur-fitur yang dapat digunakan di dalam Forum ini masih sangat terbatas.

Registrasi dalam Forum ini bebas biaya, namun tahapannya tidak terlalu sederhana, kamu disarankan untuk membaca terlebih dahulu Registrasi dan Aplikasi sebelum mendaftar pada waktu yang telah ditentukan.

Jika kamu sudah menjadi member, silahkan log in ke dalam Akunmu untuk mengakses Forum.
Posted Image

Username:   Password:
Multi Quote Quote Post
Locked Topic
Ceritakan Ceritamu; Aplikasi Chara Tim Kompetisi Ramuan Beauxbatons, Ilvermorny, Durmstrang, Uagadou, dan Castelobruxo
Topic Started: Jan 16 2018, 07:42 AM (1,486 Views)
Periculum

PERINGATAN!

Seluruh informasi dan konten berikut ini sepenuhnya adalah hasil ide, kreasi, pikiran dan Imajinasi Forum Role Play IndoHogwarts yang dipadukan dengan informasi yang diperoleh dari HPWiki dan Pottermore. Segala penggunaan informasi di luar Forum ini adalah terlarang dan dapat dikenakan sanksi yang berat dan tegas oleh Admins Forum IndoHogwarts dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu (Ingatlah bahwa Forum IndoHogwarts dilindungi hukum).


Posted Image

Topik ini disediakan khusus bagi para calon Puppet Master (PM) Tim Kompetisi Ramuan Beauxbatons, Ilvermorny, Durmstrang, Uagadou, dan Castelobruxo sebagai media untuk menunjukkan contoh tulisan role play sebagai menjadi salah satu syarat pendaftaran tahap 1 aplikasi Chara Tim Kompetisi Ramuan Beauxbatons, Ilvermorny, Durmstrang, Uagadou, dan Castelobruxo. Sebelum membuat contoh tulisan chara anda, dimohon untuk memperhatikan beberapa hal berikut:


  • Perhatikan dan baca ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Garis-garis Besar Haluan NewIndohogwarts
  • Pastikan Anda telah memahami dan memenuhi semua kriteria dan syarat yang diberlakukan di dalam Forum NewIndoHogwarts sebelum mengajukan Aplikasi Tim Kompetisi Ramuan Beauxbatons, Ilvermorny, Durmstrang, Uagadou, dan Castelobruxo di NewIndoHogwarts
  • Gunakan akun Guest untuk melakukan post di topik ini
  • Setiap satu chara (dan satu Puppet Master) cukup membuat dan mengunggah satu contoh tulisan satu kali sehingga satu tulisan yang masuk akan tercatat dengan satu alamat IP untuk kepentingan database.
  • Jangan lupa untuk mencantumkan nama chara anda dan nama visualisasi serta email aktif yang digunakan di pojok kiri atas contoh tulisan anda
  • Usahakan contoh tulisan bisa menggambarkan dan memuat secara sekilas karakter atau sifat chara dan latar belakang kehidupan chara
  • Buat tautan pada form aplikasi chara anda ke contoh tulisan anda disini

Pelangikan Imajinasimu!

Posted Image
Offline Profile Goto Top
 
Ezekiah Denholm
Unregistered

Nama: Ezekiah Pierre Cornelius Denholm — Beauxbatons
Visualisasi: Carlos Peters
Email: rosessugarfree@gmail.com


"Tu viens pas avec nous, Ezekiah?"

Sahutan itu membuatnya menengadah, sejenak mengabaikan permukaan meja yang dipenuhi dengan kuali-kuali setengah kosong, setumpuk perkamen catatan, juga beberapa sisa potongan bezoar yang tidak terpakai. Di sana, di balik pintu ruang kelas yang masih tiga perempat terbuka, Corentin Huguet membiarkan kepalanya menyembul sementara ekspresi merde1-aku-lapar-sekali tampak terlalu kentara di antara alisnya yang mengerut.

"J'arrive."

Buku panduan tebal bersampul kulit lembu tua yang tengah dibaca itu pun akhirnya ditutup. Membiarkan karibnya kelaparan sementara hari di kastil masih akan berjalan panjang jelas bukan opsi yang bijaksana—anak laki-laki bungsu keluarga Huguet itu pernah tertukar membawa baguette tongkat sihirnya dengan roti baguette karena terlambat sarapan di tingkat dua. Dan karena kabar tersebut juga sampai ke Monsieur Huguet yang tersohor di Kementerian Sihir, Corentin bercerita bahwa sang ayah membuat menu makan malamnya hanya berupa baguette dan confiture2 buah persik sepanjang libur musim dingin. Maka tentu saja Ezekiah merasa memiliki sedikit kewajiban untuk memastikan kejadian yang sama tak terulang.

Setelah memastikan tidak ada bakal ramuan yang bisa mengacau dan membuatnya menyesali keputusan untuk makan siang sejenak ini, ia berlalu menuju pintu. Selain Corentin, segerombol murid lain yang juga baru saja menyelesaikan kelas ramuan di hari Selasa pagi terlihat masih memenuhi koridor. Pemandangan puncak pegunungan Les Pyrénées yang tertutup salju abadi (bahkan di musim semi) terlihat menghiasi jendela kristal yang berjajar di sepenjuru kastil, seperti lukisan yang menyambung.

"Kau benar-benar terlalu hobi belajar, Mon Gars3. Kurasa kau harus sedikit menguranginya untuk semakin beradaptasi dengan kultur à la française4," ujar Corentin, terlihat berjalan cepat-cepat entah karena rasa lapar atau karena lebar langkah mereka yang tak seimbang. Berbeda dengan Ezekiah yang mulai pesat meninggi sejak dua tahun lalu, sang rekan sebaya masih saja menggunakan ukuran seragam yang sama saat mereka berusia empat belas. Dan ketika menanggapi komentar untuknya, pemuda Denholm itu hanya tersenyum dan mengangkat bahu abai, tahu bahwa respon apapun yang ia berikan tidak akan mengakhiri topik itu. Di samping aksen Perancis nya yang tanpa celah serta keturunan darah yang amat jelas, stigma perbedaan antara Denholm di sini dan di sana telah terlanjur melekat dan di usia ke-enam belasnya ini Ezekiah mulai memasabodohi itu.

"Oh, dan kulihat Madame Perret sudah berhenti memanggilmu Le Jeune Anglais5 di perpustakaan kemarin. Kalian sudah berdamai?"

"Tidak pernah ada konflik di antara kami. Jika memang ada, kau tahu ada di pihak siapa." Sekali lagi, bahunya terangkat, kendati ia sebenarnya bisa menebak alasan di balik perubahan sikap penjaga perpustakaan yang sejak tahun pertamanya jelas-jelas berwatak sinis itu. Si wanita paruh baya adalah seorang nasionalis sejati yang membenci segala aspek tentang Inggris karena perang-tanpa-henti, juga karena fanatisme berlebih pada Bonaparte, sang emperor muggle. Namun, begitu musim gugur lalu koran-koran utama di kota Paris mempublikasi mengenai sebuah aliansi mengejutkan yang melibatkan Inggris dan Perancis, sepertinya Salomé Perret pun tak memiliki pilihan.

Terkadang, ia begitu ingin menanamkan anggapan bahwa sebuah tempat tidaklah lebih dari keterangan tambahan yang melengkapi hidup.



Terjemahan:
- Tu viens pas avec nous, Ezekiah: Kau tidak ikut dengan kami, Ezekiah?
- J'arrive : Aku ke sana.
- 1. Merde: Sialan // 2. Confiture: Buah yang diawetkan menjadi semacam selai // 3. Mon Gars : Sobat // 4. à la française : khas Perancis // 5. Le Jeune Anglais : Pemuda Inggris.
Goto Top
 
Issa Kahlu
Unregistered

Nama: Issa Kahlu
Visu: Idris Elba
E-mail: de.dare.de.vile@gmail.com

Satu.

Dua.

Tiga.

Detak jarum jam terdengar berirama di ruangannya: sebuah kamar hotel dalam sebuah hotel di kota persinggahan di tengah gurun. Ketika sibuk, suara itu memberinya ritme aktivitas yang teratur. Namun ketika ia sedang tenggelam dalam pikirannya, seperti sekarang, suara tersebut seperti bunyi langkah kewarasannya pergi meninggalkan dia. Setiap tik dan setiap tok membawanya semakin dekat pada kegilaan.

Issa mengibaskan tangan ke arah jam pendulum tinggi sudut ruangan—benda itu berhenti bekerja seketika. Keheningan merebak, menyesikan dengung alam yang sudah disadarinya ada—dan terdengar, dan terabaikan—sejak usia dia delapan tahun. Issa memejamkan mata menikmati suara dengung itu. Kedua tangannya kini menopang dagu di atas meja, tinju-tinjunya terkepal. Selama beberapa detik, tidak ada yang bergerak selain tarikan dan hembusan napas Issa.

Kegemingan tersebut diganggu oleh ketukan di pintu. Issa membuka matanya, melirik tajam ke arah pintu. Pada ketukan kedua, barulah dengan lambat ia bangkit berdiri, menyambut tamunya dengan muka masam. Perbedaan tinggi mereka yang cukup jauh membuat si tamu tampak mengkerut ketakutan di hadapannya.

"P-paket..." cicit si tamu dalam bahasa Arab. Dia tak lebih dari seorang pegawai hotel. Tangannya yang bergetar menyodorkan sebungkus kotak kecil pada Issa.

Issa mengambil paket itu, berucap syukron datar, lalu menutup pintu. Suara langkah kaki yang terdengar kemudian menandakan si pegawai pergi dengan begitu tergesa.

Paket di tangan Issa dilempar asal ke atas tempat tidur—tidak banyak perabotan yang ada di ruangan itu. Selain jam yang masih belum berdetak kembali, hanya terdapat sebuah tempat tidur dengan kasur tipis, sebuah meja dan bangku yang tadi ditempati Issa sebelum membuka pintu, dan sebuah kuali besar, diletakkan tepat di bawah jendela. Minimnya perabotan dan dinding yang terbuat dari pasir membuat suhu di dalam ruangan cenderung sejuk, dibanding terik matahari di luar.

Issa melangkah mendekati kuali di bawah jendela.

Dengan hati-hati tangannya membuka tutup kuali. Sekejap saja asap mengepul, menimbulkan aroma berlemak yang bercampur dengan wewangian bunga-bunga kering serta bau makanan gosong. Mereka yang belum terbiasa dengan bau-bauan seperti ini, biasanya akan bergulat dengan perut mual. Tapi bagi Issa, aroma itu hanya menandakan bahwa ramuannya tidak rusak. Semua masih berjalan sesuai keinginannya, dan itu hal bagus.

Ini ramuan istimewa. Dia sensitif pada suara, percaya atau tidak. Issa kira suara ketukan pintu tadi telah menggagalkan ramuannya, tapi tampaknya ramuan itu sudah cukup siap untuk kembali mendengar hiruk-pikuk kehidupan di luar kamar. Intensitas kekentalannya sempurna; warnanya pun hijau cerah memuaskan.

Tersenyum lega, Issa kembali ke tempat tidur, mengambil paket yang tadi dia lempar. Sebelum dibuka pun dia sudah tahu isinya: sebuah boneka voodoo milik korban yang sudah meninggal. Selingkaran lubang kecil di dada boneka itu menunjukkan bagaimana korbannya terbunuh.

Issa membawa boneka tersebut ke jendela. Asap dari kuali sudah menipis. Aromanya mulai berbaur dengan bau-bauan lain yang ada di ruangan itu. Issa mendudukan boneka tersebut di ambang jendela, lalu ia membuka jendelanya lebar-lebar. Ramai orang berlalu-lalang di jalanan di bawah (kamar Issa berada di tingkat dua) berebutan masuk ke kamar, mengusir sunyi yang sempat bersemayam dalam jaya beberapa waktu lalu. Dari sudut matanya dia dapat melihat ramuan dalam kuali bergejolak, menyambut keramaian.

"Dimka?" Issa memanggil. Beberapa orang di jalanan di bawah melirik ke arahnya, memutuskan dia tidak menarik, lalu melanjutkan urusan mereka. "Dimka!" panggil Issa lagi, lebih keras.

Tak lama, seekor kera bermuka hitam muncul dari balik sebuah kios tenda yang didirikan di seberang hotel. Hewan itu melompat-lompat, dari satu kepala bersorban ke kepala bersorban yang lain, hingga sampai di ambang jendela Issa, dan berakhir hinggap di bahu kanannya. Monyet itu menjerit pelan ke telinga Issa, lalu menyerahkan sepucuk surat berupa gulungan perkamen.

"Oh?" Issa tidak menduga ini. Dia menaikkan alis. Dengan penasaran dibukanya surat tersebut. Isinya hanya kabar terbaru tentang proyek pribadi yang sedang ia kerjakan, ternyata. Berjalan kembali ke mejanya, Issa memasukkan surat tersebut ke dalam laci, lalu mengeluarkan sebuah buku kecil lusuh sebagai gantinya.

Sebuah jurnal.

Senin siang, Issa menulis, menggunakan bahasa Luganda, dilanjutkan dengan tanggal dan jam. Ramuan berjalan lancar. Boneka voodoo yang diterima dalam kondisi bagus, selain dadanya yang bolong. Seharusnya bukan masalah. Malam ini akan mencoba menggunakan ramuannya pada boneka. Kalau berhasil, aku akan memiliki asisten homunculus kecil—

Dimka si kera melompat dari bahunya dan pergi ke atas kasur. Tidak menemukan buah-buahan, hewan itu menyuarakan protes. Issa mengabaikannya, melanjutkan menulis.

Seandainya efek yang diharapkan tidak terjadi, maka harus menghentikan percobaan untuk sementara waktu. Harus kembali ke Uagadou.

Kali ini kegiatannya diinterupsi oleh sebuah teriakan dari arah jendela yang terbuka. Teriakan bernada marah itu disusul oleh teriakan-teriakan lain, yang juga bernada marah, dalam bahasa Arab. Tampaknya terjadi pertikaian di bawah sana. Issa menghela napas, lalu menatap Dimka. Hewan itu memelototinya balik.

"Aku tahu, aku tahu, kita jauh dari rumah," ujarnya dalam bahasa Luganda.

Mereka saat ini berada di wilayah utara benua. Rumah mereka di wilayah selatan.

Teriakan-teriakan marah dari luar jendela terus berlangsung. Issa pun bangkit untuk menutup jendela, sebelum konflik tersebut membuat ramuannya benar-benar rusak.
Goto Top
 
Senna Alencar
Unregistered

Nama Chara: Senna Alencar
Visualisasi: Marina Nery - Model
E-mail: tinggaltanya@gmail.com



Dunia luar bagi penduduk lokal tak ubahnya seperti sebuah cerminan neraka abadi. Orang-orang asing menguasai negaraku, para "Sem-Magica" atau manusia tanpa sihir yang di negaramu lebih dikenal dengan sebutan "Muggle" datang sejak berabad-abad silam dan menandai tempat ini sebagai negara jajahan, negara berisi orang-orang tak pintar berkulit cokelat yang mudah sekali disusupi berbagai jenis tipu daya. Dimulai dengan menaklukan Sao Vicente demi ketamakan mereka terhadap tambang emas, kayu celup, biji kopi, semuanya, bahkan termasuk harga diri dan hak-hak kemanusiaan kami. Lalu kau bertanya apakah aku kecewa? Ya, tentu saja. Malah lebih tepatnya aku murka pada mereka. Tapi setelah kupikir lagi, sejujurnya aku perlu memulai suatu hal yang lebih konkret selain berpangku tangan dan mengeluh menahan ledakan amarah ini sendirian.

Seperti...


Menyihir mereka semua jadi kapibara, mungkin?




-000-


Keadaan Brasil pada masa ini tak ubahnya seperti tuan rumah yang terusir dari tempat tinggalnya secara perlahan. Bangsa-bangsa lain masih berusaha menguasai berbagai macam hal lewat berbagai macam sektor. Orang Portugis adalah yang terburuk. Menurut sejarah dan cerita mereka bahkan sudah ada di tempat itu sejak tahun seribu lima ratusan, lebih dari tiga abad, bayangkan, berapa banyak rakyat yang menderita karena itu. Para pria dijadikan buruh paksa, para wanita muda yang diperjualbelikan layaknya barang pakai tak berharga, atau anak-anak yang hidup tanpa orangtua mereka—yang sayangnya kebanyakan memang didominasi oleh kaum Sem-Magica.

Sedangkan bagi gadis itu sendiri—apa istilahnya—ada perbedaan yang sedikit menguntungkan dengan lahir sebagai seorang penyihir. Misalnya, memiliki kemampuan untuk tak terdeteksi. Ya. Lebih dari sekedar fakta bahwa banyak dari penyihir lebih menyukai hidup tersembunyi dari dunia luar ketimbang membaur dan mencari-cari masalah dengan kaum non sihir termasuk para penjajah. Mereka bisa hidup bebas, terisolasi, cenderung aman, dan itulah yang terjadi. Senna Alencar adalah seorang gadis enam belas tahun dan berasal dari Manaus, ibukota negara bagian Amazonas yang dikelilingi hutan rimba serta sungai besar yang menjadi jantung kehidupan masyarakat di sana. Bersama ayahnya ia tinggal berdua di desa penyihir bernama "Perna De Deus", berdampingan dengan para penyihir lain yang hidup bagaikan merdeka di bawah naungan sihir rumit kuno yang membuat mereka tidak terlihat oleh Sem-Magica.

Dan bagi Senna, selain Perna De Deus hanya ada satu lagi tempat teraman di daerah ini. Castelobruxo, benar sekali. Atau barangkali tadinya demikian. Sampai hari dimana belakangan ia jadi lebih sering ditodong Quíncio Molan untuk mengajarinya main masak-masakan.

"Ei... acho que há um pouco de problema aqui."

Cicit si pemuda setengah lesu di antara rapatnya suara guyuran hujan dan gledek berbunyi pengar siang hari itu. Wajahnya tampak putus asa bercampur jengkel setelah berkali-kali gagal membuat komposisi takaran yang pas, dan apa sekarang dia melakukannya lagi?

Dari balik periuk panasnya Senna hanya bisa mengulum bibir, berpikir sembari berasumsi dimana letak kesalahan mereka kali ini. Walau jujur ia sendiri tidak tahu apa yang sedang teman satu kelasnya itu buat dan masukkan ke dalam wadah miliknya. "Ou warnanya aneh, kau yakin sudah melakukan semua dengan benar kali ini?" Liriknya agak skeptis. Terutama setelah melihat cairan kental berwarna hijau pucat yang menggolak-golak tersebut. Walau harus diakui pemuda itu punya ambisi cukup besar, meski sepertinya kemampuan yang dia miliki tidak terlalu.

Ingat bagaimana ketika dia pamer sekaleng lintah yang didapatnya dari sungai pagi ini? Senyum lebar yang tampak bodoh namun kasihan sekali. Bagaimana bisa anak itu memancing lintah dengan menjadikan lengannya sebagai umpan... Tidak heran dia panen belasan lintah gemuk kurang dari satu jam.

Jelas saja karahnya disedot untuk jadi tumbal.

"Quer tentar novamente? Err—ramuan lain," Senna menghentikan gerakan kayu pengaduk pada periuk miliknya dan membalik halaman buku ramuan yang pada halaman acak. "yang lebih mudah. Antidot? Borborygmus?" Padahal tadinya ia ingin sekali menyarankan Quíncio untuk merebus telur ashwinder[1] supaya tidak merepotkan.

Tapi sungguh, wajahnya yang begitu betul-betul minta dikasihani.



Terjemahan:

- Ei... acho que há um pouco de problema aqui: Hey... kurasa ada sedikit masalah di sini.
- Quer tentar novamente?: Mau mencobanya lagi?
[1] Telur Ashwinder rebus bisa dijadikan obat demam (pekerjaan sepele // idiom ini mirip seperti: orang yang tidak bisa memasak setidaknya bisa kalau hanya menggodok air).
Goto Top
 
Senna Alencar
Unregistered

Nama Chara: Senna Alencar
Visualisasi: Meika Woollard
E-mail: tinggaltanya@gmail.com



Dunia luar bagi penduduk lokal tak ubahnya seperti sebuah cerminan neraka abadi. Orang-orang asing menguasai negaraku, para "Sem-Magica" atau manusia tanpa sihir yang di negaramu lebih dikenal dengan sebutan "Muggle" datang sejak berabad-abad silam dan menandai tempat ini sebagai negara jajahan, negara berisi orang-orang tak pintar berkulit cokelat yang mudah sekali disusupi berbagai jenis tipu daya. Dimulai dengan menaklukan Sao Vicente demi ketamakan mereka terhadap tambang emas, kayu celup, biji kopi, semuanya, bahkan termasuk harga diri dan hak-hak kemanusiaan kami. Lalu kau bertanya apakah aku kecewa? Ya, tentu saja. Malah lebih tepatnya aku murka pada mereka. Tapi setelah kupikir lagi, sejujurnya aku perlu memulai suatu hal yang lebih konkret selain berpangku tangan dan mengeluh menahan ledakan amarah ini sendirian.

Seperti...


Menyihir mereka semua jadi kapibara, mungkin?




-000-


Keadaan Brasil pada masa ini tak ubahnya seperti tuan rumah yang terusir dari tempat tinggalnya secara perlahan. Bangsa-bangsa lain masih berusaha menguasai berbagai macam hal lewat berbagai macam sektor. Orang Portugis adalah yang terburuk. Menurut sejarah dan cerita mereka bahkan sudah ada di tempat itu sejak tahun seribu lima ratusan, lebih dari tiga abad, bayangkan, berapa banyak rakyat yang menderita karena itu. Para pria dijadikan buruh paksa, para wanita muda yang diperjualbelikan layaknya barang tak berharga, atau anak-anak yang hidup tanpa orangtua mereka—yang sayangnya kebanyakan memang didominasi oleh kaum Sem-Magica.

Sedangkan bagi gadis itu sendiri—apa istilahnya—ada perbedaan yang sedikit menguntungkan dengan lahir sebagai seorang penyihir. Misalnya, memiliki kemampuan untuk tak terdeteksi. Ya. Lebih dari sekedar fakta bahwa banyak dari penyihir lebih menyukai hidup tersembunyi dari dunia luar ketimbang membaur dan mencari-cari masalah dengan kaum non sihir termasuk para penjajah. Mereka bisa hidup bebas, terisolasi, cenderung aman, dan itulah yang terjadi. Senna Alencar adalah seorang gadis enam belas tahun dan berasal dari Manaus, ibukota negara bagian Amazonas yang dikelilingi hutan rimba serta sungai besar yang menjadi jantung kehidupan masyarakat di sana. Bersama ayahnya ia tinggal berdua di desa penyihir bernama "Perna De Deus", berdampingan dengan para penyihir lain yang hidup bagaikan merdeka di bawah naungan sihir rumit kuno yang membuat mereka tidak terlihat oleh Sem-Magica.

Dan bagi Senna, selain Perna De Deus hanya ada satu lagi tempat teraman di daerah ini. Castelobruxo, benar sekali. Atau barangkali tadinya demikian. Sampai hari dimana belakangan ia jadi lebih sering ditodong Quíncio Molan untuk mengajarinya main masak-masakan.

"Ei... acho que há um pouco de problema aqui."

Cicit si pemuda setengah lesu di antara rapatnya suara guyuran hujan dan gledek berbunyi pengar siang hari itu. Wajahnya tampak putus asa bercampur jengkel setelah berkali-kali gagal membuat komposisi takaran yang pas, dan apa sekarang dia melakukannya lagi?

Dari balik periuk panasnya Senna hanya bisa mengulum bibir, berpikir sembari berasumsi dimana letak kesalahan mereka kali ini. Walau jujur ia sendiri tidak tahu apa yang sedang teman satu kelasnya itu buat dan masukkan ke dalam wadah miliknya. "Ou warnanya aneh, kau yakin sudah melakukan semua dengan benar kali ini?" Liriknya agak skeptis. Terutama setelah melihat cairan kental berwarna hijau pucat yang menggolak-golak tersebut. Walau harus diakui pemuda itu punya ambisi cukup besar, meski sepertinya kemampuan yang dia miliki tidak terlalu.

Ingat bagaimana ketika dia pamer sekaleng lintah yang didapatnya dari sungai pagi ini? Senyum lebar yang tampak bodoh namun kasihan sekali. Bagaimana bisa anak itu memancing lintah dengan menjadikan lengannya sebagai umpan... Tidak heran dia panen belasan lintah gemuk kurang dari satu jam.

Darahnya disedot untuk jadi tumbal.

"Quer tentar novamente? Err—ramuan lain," Senna menghentikan gerakan kayu pengaduk pada periuk miliknya dan membalik halaman buku ramuan yang pada halaman acak. "yang lebih mudah. Antidot? Borborygmus?" Padahal tadinya ia ingin sekali menyarankan Quíncio untuk merebus telur ashwinder[1] supaya tidak merepotkan.

Tapi sungguh, wajahnya yang begitu betul-betul minta dikasihani.



Terjemahan:

- Ei... acho que há um pouco de problema aqui: Hey... kurasa ada sedikit masalah di sini.
- Quer tentar novamente?: Mau mencobanya lagi?
[1] Telur Ashwinder rebus bisa dijadikan obat demam (pekerjaan sepele // idiom ini mirip seperti: orang yang tidak bisa memasak setidaknya bisa kalau hanya menggodok air).


[EDITED - Mengganti Visuaslisasi]
Goto Top
 
Ryker Henrichsen
Unregistered

Nama Chara: Ryker Henrichsen
Visualisasi: Ton Heukels
E-mail: namakusiapa777@gmail.com


"Kau dapat cangkang telur Occamy-nya?"

Gadis Rusia berambut merah itu langsung menghambur padanya begitu Ryker Henrichsen memasuki pintu pondok di tepi danau itu. Pemuda itu terkekeh menanggapi sambutan yang diberikan pada pertemuan pertama mereka selepas libur musim dingin yang panjang.

Dengan wajah yang dibuat sok kecewa, si pemuda Henrichsen melingkarkan lengannya ke pinggang ramping itu, menariknya mendekat hingga tubuh mereka berhimpitan. "Begitu caramu menyapa pacar yang sudah sebulan tidak bersua? Küss mich."[1] Uap putih berembus dari bibirnya ke wajah cantik di hadapannya ketika Ryker berbicara dan langsung disambut dengan sebuah senyuman sensual dan ciuman yang panjang.

Tidak ada yang bisa lebih menghangatkan di musim dingin dari pelukan hangat sesosok wanita. Enam tahun tinggal di kastel Durmstrang yang sedingin istana es ini sudah mengajarkannya berbagai cara untuk mendapat kehangatan. "Kau memang yang terbaik, Liebling." Kata-kata itu terucap dengan begitu fasihnya di sela-sela kesibukan mereka. Meskipun sudah diucapkan begitu sering kepada begitu banyak wanita, tapi Ryker selalu serius dengan ucapannya. Sungguh! Walaupun dia berganti pacar lebih sering daripada mencukur rambutnya, ia tidak pernah punya dua pacar di kastel dalam satu waktu.

Ya, ya. Dan sebentar lagi persediaan gadis lajang yang belum pernah dia pacari di Durmstrang akan habis. Gott sei Dank[2] setahun lagi dia akan lulus dan bisa mulai berburu para gadis cantik dan butuh kasih sayang di luar sana.

Cukup puas dengan acara melepaskan rindu itu, Ryker menarik si gadis duduk berhadapan di depan meja makan. Dari balik jaket bulu tebalnya, pemuda itu mengeluarkan dua buah kantong kulit dan menuangkan isinya di atas meja.

"Cangkang telur Occamy dari timur jauh." Cengiran muncul di wajah tampan itu. Bahan ramuan yang selangka ini bahkan tidak ada di lemari bahan ramuan di klub ramuan Durmstrang. "Aku menjelajahi seluruh Kiel untuk mencari pedagang India yang kapalnya terjebak lapisan es hingga tidak bisa berlayar sampai musim semi tiba. "

Kiel merupakan sebuah kota yang terletak mengelilingi teluk yang berarus tenang, salah satu pelabuhan terbesar di Holstein, Jerman utara. Baik kapal Muggle maupun kapal penyihir, setiap harinya hilir mudik dan berlabuh, membawa berbagai orang dari segala suku bangsa dan bahasa untuk mampir, berdagang, atau bahkan tinggal sementara waktu di kota itu.

Tersamarkan oleh kabut dan ilusi perairan dangkal yang sarat batu karang (yang diciptakan oleh komunitas penyihir setempat), diam-diam banyak kapal berawak penyihir yang berlabuh di salah satu ceruk tersembunyi di pesisir pantai Kiel. Sebut saja para penyihir dari Skandinavia, Rusia, Swedia, atau Norwegia, semuanya pasti memenuhi kedai makan milik keluarga Herichsen setiap harinya. Merlin tahu berapa banyak transaksi yang terjadi di dalam kedai itu, termasuk juga perdagangan beberapa bahan ramuan langka yang senantiasa menarik perhatian Ryker dan Zamiel.

Tidak perlu diceritakan bahwa dia menemukan Mr.Punjabi, si pedagang dari India, melalui putrinya yang cantik jelita, Sanvii. Pacar liburannya, begitu dia menyebut gadis-gadis seperti Sanvii, para penyihir yang singgah selama beberapa minggu di Kiel dan cocok untuk menjalin hubungan singkat selama dia berada di rumah. Biasanya selalu ada tangis dan ancaman yang menyertai setiap akhir hubungan itu, tapi Ryker sudah terbiasa mengatasinya.

Adiknya sering mengatakan dia seperti mengoleksi pacar dari setiap negara yang ada di belahan dunia ini. Hmm, bukan ide yang buruk juga. Cita-citanya selepas lulus dari Durmstrang nanti memang berkelana keliling dunia untuk berdagang dan mencari bahan-bahan ramuan langka. Ya tentunya dia tidak mungkin menjadi petapa suci sepanjang perjalanannya, kan? Biarkan saja Zamiel yang belajar meneruskan usaha keluarga sambil menekuni hobinya menjadi pembuat ramuan lalu memperistri gadis lokal, adiknya pasti cocok untuk hal itu.

"Lalu ini telur Ashwinder." Dari kantong yang satunya dia mengeluarkan sebuah benda lonjong yang bagian luarnya berwarna bening buram karena dibekukan. Yang satu ini tidak selangka cangkang telur Occamy karena Ashwinder bisa ditemukan di daratan Eropa meskipun tetap saja harganya mahal dan tidak bisa sembarangan diakses oleh murid.

Gadisnya yang satu ini sudah merengek minta dibuatkan ramuan Felix Felicis semenjak musim gugur. Cemas akan pertandingan Quidditch-nya nanti, katanya. Anak tingkat satu juga tahu kalau ramuan itu dilarang dalam setiap ujian dan pertandingan, tapi itu bukan urusannya. Ryker hanya merasa tertantang membuat ramuan yang dikategorikan sulit itu. Akan menjadi tambahan prestasinya sendiri kalau dia berhasil membuatnya, tiketnya untuk merebut kesempatan menjadi wakil Durmstrang di World School Potion Championship yang akan diadakan di Hogwarts.

Sudah melegenda bahwa siswi di Hogwarts dan Beauxbatons cantik-cantik dan pemuda itu tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengunjungi salah satunya. Dia tidak pernah menyesal bersekolah di Durmstrang, tapi sungguh tempat ini terlalu dominan hormon testosteronnya. Sial.

"Kau sudah bawa peralatan dan bahan lain yang kusuruh, Süsse?"[3]

Gadis itu mengangguk dengan patuh, mengeluarkan berbagai peralatan ramuan stoples bahan-bahan lain yang dibutuhkan. Ryker memeriksa setiap stoples dan memastikan semuanya tepat seperti yang sudah dia catat dalam ingatannya. Squill bulb, horseradish, tyme, murtlap, dan berbagai bahan yang lain. Ekspresi bercanda hilang dari wajah pemuda itu, bergantikan ekspresi serius yang memang dibutuhkan dalam pembuatan ramuan.

Tangannya mulai bergerak lincah. Menggerus cangkang telur Occamy, memotong bagian punggung Murtlap, dan menyiapkan bahan satu per satu.
Kemudian dia mengedipkan matanya pada si gadis yang tengah menonton dengan ekspresi memuja itu. "Tontonlah dengan baik, Liebling[4]. Ini pertunjukan langka." Setelahnya pemuda itu meletakkan kuali di atas kompor dan gadis Rusia itu pun terlupakan sudah.

[1] Cium aku
[2] Terima kasih, Tuhan.
[3] Panggilan sayang dalam bahasa Jerman
[4] Panggilan sayang dalam bahasa Jerman
Goto Top
 
Ezekiah Denholm
Unregistered

Nama: Ezekiah Pierre Cornelius Denholm — Beauxbatons
Visualisasi: Carlos Peters
Email: rosessugarfree@gmail.com


"Tu viens pas avec nous, Ezekiah?"

Sahutan itu membuatnya menengadah, sejenak mengabaikan permukaan meja yang dipenuhi dengan kuali-kuali setengah kosong, setumpuk perkamen catatan, juga beberapa sisa potongan bezoar yang tidak terpakai. Di sana, di balik pintu ruang kelas yang masih tiga perempat terbuka, Corentin Huguet membiarkan kepalanya menyembul sementara ekspresi merde1-aku-lapar-sekali tampak terlalu kentara di antara alisnya yang mengerut.

"J'arrive."

Buku panduan tebal bersampul kulit lembu tua yang tengah dibaca itu pun akhirnya ditutup, setelah halaman-halaman yang membahas lebih jauh fungsi bezoar pada ramuan-ramuan yang lebih rumit ditandai. Membiarkan karibnya kelaparan sementara hari di kastil masih akan berjalan panjang jelas bukan opsi yang bijaksana—anak laki-laki bungsu keluarga Huguet itu pernah tertukar membawa baguette tongkat sihirnya dengan roti baguette karena terlambat sarapan di tingkat dua. Dan karena kabar tersebut juga sampai ke Monsieur Huguet yang tersohor di Kementerian Sihir, Corentin bercerita bahwa sang ayah membuat menu makan malamnya hanya berupa baguette dan confiture2 buah persik sepanjang libur musim dingin. Maka tentu saja Ezekiah merasa memiliki sedikit kewajiban untuk memastikan kejadian yang sama tak terulang.

Setelah memastikan tidak ada bakal ramuan yang bisa mengacau dan membuatnya menyesali keputusan untuk makan siang sejenak ini, ia pun bangkit dengan membawa bukunya dan berlalu menuju pintu. Selain Corentin, segerombol murid lain yang juga baru saja menyelesaikan kelas ramuan di hari Selasa pagi terlihat masih memenuhi koridor, dengan perbincangan yang rata-rata berpusat pada berhasil atau tidaknya ramuan yang mereka buat. Pemandangan puncak pegunungan Les Pyrénées yang tertutup salju abadi (bahkan di musim semi) terlihat menghiasi jendela kristal yang berjajar di sepenjuru kastil, sekilas tampak seperti lukisan yang menyambung.

"Kau benar-benar terlalu hobi belajar, Mon Gars3. Kelas ramuan tidaklah se-penting itu. Kurasa kau harus sedikit menguranginya untuk semakin beradaptasi dengan kultur à la française4," ujar Corentin, terlihat berjalan cepat-cepat entah karena rasa lapar atau karena lebar langkah mereka yang tak seimbang. Berbeda dengan Ezekiah yang mulai pesat meninggi sejak dua tahun lalu, sang rekan sebaya masih saja menggunakan ukuran seragam yang sama saat mereka berusia empat belas.

Dan ketika menanggapi komentar untuknya, pemuda Denholm itu hanya tersenyum sementara bahunya terangkat abai, tahu bahwa respon apapun yang ia berikan tidak akan mengakhiri topik di sana. Setengah bercanda, ia bertanya apakah menjadi orang Perancis sepenuhnya berarti menggagalkan tes ramuan sederhana yang seharusnya telah dikuasai sejak tingkat dua dan membuat isi kualimu berbau seperti keju le pont-l'évêque5 yang apak. Atau barangkali dengan sengaja melebihkan jumlah takaran kelopak bunga Vervain karena menganggap itu akan mempercepat efek ramuan obat anti-gigitan anjing gila. Corentin kemudian meninju bahunya.

Bagaimanapun, di samping aksen Perancis nya yang tanpa celah serta garis keturunan darah yang amat jelas, stigma perbedaan antara Denholm di sini dan di sana telah terlanjur melekat dan di usia ke-enam belasnya ini Ezekiah mulai memasabodohi itu.

"Oh, dan kulihat Madame Perret sudah berhenti memanggilmu Le Jeune Anglais6 di perpustakaan kemarin. Kalian sudah berdamai?"

"Tidak pernah ada konflik di antara kami. Jika memang ada, kau tahu ada di pihak siapa." Sekali lagi, bahunya terangkat, kendati ia sebenarnya bisa menebak alasan di balik perubahan sikap penjaga perpustakaan yang sejak tahun pertamanya jelas-jelas berwatak sinis itu. Si wanita paruh baya adalah seorang nasionalis sejati yang membenci segala aspek tentang Inggris karena perang-tanpa-henti, juga karena fanatisme berlebih pada Bonaparte, sang Emperor MolduMuggle. Namun, begitu musim gugur lalu koran-koran utama di kota Paris mempublikasi mengenai sebuah aliansi mengejutkan yang melibatkan Inggris dan Perancis, sepertinya Salomé Perret pun tak memiliki pilihan.

Terkadang, ia begitu ingin menanamkan anggapan bahwa sebuah tempat tidaklah lebih dari keterangan tambahan yang melengkapi hidup.

Dan, sebagian orang sepertinya tidak benar-benar bisa memilih.




Terjemahan:
- Tu viens pas avec nous, Ezekiah: Kau tidak ikut dengan kami, Ezekiah?
- J'arrive : Aku ke sana.
- 1. Merde: Sialan // 2. Confiture: Buah yang diawetkan menjadi semacam selai // 3. Mon Gars : Sobat // 4. à la française : khas Perancis // 5. le pont-l'évêque : Salah satu jenis keju Perancis yang sangat berbau tak sedap. // 6. Le Jeune Anglais : Pemuda Inggris.


EDITED - Menambahkan beberapa deskripsi untuk menyesuaikan dengan tema ramuan.
Goto Top
 
Manuel Nadal
Unregistered

Nama: Manuel Nadal — Ilvermorny
Visualisasi: Lin-Manuel Miranda
Email: schoolof.sardines@gmail.com




Cerita bermula dari Abuelo Fernando Cerón yang punya ide untuk menghapus darah sihir di dalam dirinya dengan bermigrasi jauh-jauh dari Spanyol ke sebuah pulau di Karibia.

Abuelo Fernando adalah anak tengah dari sembilan penyihir yang bermukim di Pulau Kenari—Spanyol, seorang penyihir, dan Katholik. Labelnya yang terakhir awalnya disemat karena terjadi peleburan budaya yang terjadi beratus-ratus tahun di Spanyol. Para penyihir tidak ada yang terlalu terpengaruh oleh spiritual keagamaan, hanya gesekan-gesekan kultural yang melekat pada mereka, mengikuti berbagai tradisi dan juga budaya Spanyol yang kental dengan aroma Renaissance yang melekat pada jubah mereka. Tidak dengan Abuelo Fernando, kepalanya tenggelam dalam radikalisme spiritual sampai ia punya pemikiran bahwa ia membenci dirinya sendiri karena dia seorang penyihir. Maka saat ada kesempatan diaspora para Canarians pada sebuah New World—Dunia Baru, Abuelo Fernando memutuskan untuk pindah mengikuti para pembaharu Spanyol dengan memulai hidup baru di Karibia—Rich Port alias Puerto Rico.

Bertahun-tahun kemudian Abuelo Fernando dilupakan oleh para orang-orang Pulau Kenari. Tetapi ia meneruskan legacynya dengan menikah dan melanjutkannya hidupnya sebagai seorang No-Maj. Di tengah kemiskinan (dan penyesalan karena rupanya hidup sebagai No-Maj teramat sulit ketimbang menjadi penyihir), Abuelo Fernando kemudian meninggal. Ketiga anaknya adalah laki-laki, dengan satu anak perempuan—bernama Miranda Cerón (yang
menikahi seorang Nadal). Abuela Miranda adalah putri kesayangan Abuelo Fernando, dan kepadanyalah satu-satunya rahasia terkait penyihir disampaikan.

Abuela Miranda hidup sampai usia sembilan puluh tahun. Ia dihormati di kalangan No-Maj karena bakat sihirnya. Tahu bahwa dia memang berbeda, Abuela Miranda melatih pelan-pelan kemampuan sihirnya sendiri, sehingga ia dianggap sebagai cenayang dan orang pintar oleh para Canarians yang bermukim di San Juan. Beberapa datang kepadanya meminta doa juga berkah karena Abuela Miranda wanita yang taat. Tanpa mereka ketahui, di balik seluruh mukjizat spiritualnya tersimpan bakat sihir rahasia. Pada tahun 1797, La Rogativa membuat tentara Inggris dipukul mundur oleh mukjizat doa berkat dirinya menjadi satu titik tersendiri bahwa ia harus menceritakan pada salah satu cucunya akar siapa mereka.

Delapan tahun kemudian lahirlah Manuel Nadal dari salah satu putranya Cristóbal. Masa-masa tua Abuela Miranda disisihkannya untuk merawat Manuel dengan menceritakan kisah-kisah sihir seperti yang pernah diceritakan Abuelo Fernando padanya. Pada usia Manuel yang kesembilan, Abuela Miranda berpesan pada Manuel untuk mengetahui root-nya sebagai penyihir, tak lama ia meninggal. Anak laki-laki cemerlang itu mematuhi perintah Abuela Miranda, dan jiwa berpetualangnya membawa serta Manuel pada satu kapal yang mengantarkannya pada daratan Amerika Utara, menuju sebuah sekolah sihir bernama Ilvermorny.


***


La Rogativa—“Usia abuela-ku saat itu tujuh puluh tiga. Hanya berbekal doa dan juga hymn katedral. Bayangkan—mi abuela—setua itu, mengusir tantara Inggris pergi dari kami selamanya!”

Berulang kali Manuel menceritakan kisah itu dalam Bahasa Inggris terbata-batanya yang sudah mulai terucap secara cepat di sela-sela aksen kental Spanyol-nya, dan Keegsquaw—si gadis Wampanoag yang menjadi sahabatnya tak pernah bosan mendengar. Bosan sih, tetapi dari pandangan gadis itu, sepasang mata gelap Manuel akan memancarkan kecemerlangan setiap kali pemuda itu menceritakan soal abuela-nya. Keegsquaw sangat suka saat Manuel tampak berbinar. Dan entah sejak kapan perasaan sukanya berkembang menjadi afeksi yang aneh.

“Jadi…” Keegsquaw membelokkan pembicaraan, ia menyerahkan gerusan sayap peri pada Manuel, “Kau dengar sendiri kan turnamen ramuan itu?”

Manuel berhenti sejenak, menatap pada kepulan asap yang dihasilkan pada air yang direbus pada kuali di hadapan mereka. Manuel merupakan siswa Ilvermorny yang sangat cemerlang. Masih segar di benak Keegsquaw, bukan hanya ukiran Horned Serpent yang memilihnya, Pukwudgie pun ikut menyalakan anak panahnya saat Manuel Nadal diseleksi. Beberapa bisik-bisik terdengar, mengingat kehadiran Manuel Nadal masih terbilang asing di tengah-tengah siswa Ilvermorny—karena anak laki-laki tersebut datang tanpa pengetahuan bahasa yang baik (dia tidak bisa Bahasa Inggris, apalagi Bahasa Algonquian). Sampai harus didatangkan pukwudgie untuk memberinya penjelasan untuk memilih apakah ia ingin memilih asrama Pukwudgie atau Horned Serpent. Tak lama Manuel memilih Horned Serpent, dan pukwudgie yang memandunya menggerutu kesal pada pilihannya. Saat Keegsquaw bertanya mengapa Manuel memilih Horned Serpent, jawabannya sederhana—“Hey, si pukwudgie itu tidak sopan padaku, mengapa juga aku harus memilih asrama berdasarkan makhluk tak sopan seperti itu.”—sesederhana itu.

“Inggris, kau tahu, itu lah mengapa peristiwa La Rogativa terjadi,” Manuel memandang Keegsquaw, alisnya terangkat satu. Ia kemudian menaburkan gerusan tersebut pada kualinya, “Menurutmu?”

“Yang menyerang tanah kelahiranmu kan para No-Maj Inggris, mereka bukan penyihir. No-Maj memang punya rasa haus tak wajar dan senang berperang.” Keegsquaw mendesah panjang, dan ia membuka vial berisi embun pagi dan memasukannya pada kuali. Tidak heran, bagaimana pun akan terdapat sentimen terhadap para No-Maj mengingat orang-orangnya mendapat perlakuan tak menyenangkan dari para No-Maj yang menggerus tanah mereka.

“Kalau aku ikut berpartisipasi,” Manuel berhenti dari aktivitas mereka dalam membuat Beautification Potion yang menjadi tugas sekolah mereka, “apa kau ikut denganku ke Inggris?”

Keegsquaw melebarkan matanya, dan ia berani jamin warna wajahnya berubah merah mendengar ajakan itu. Sekali pun ia diingat sebagai si orang-orang berwajah merah (red face), tetapi pasti kentara sekali. “Aku akan senang ikut denganmu, Manuel. Tapi aku yakin yang boleh ikut hanya mereka yang berpartisipasi.”

Manuel tersenyum, “Kalau begitu, tunggu aku kembali. Karena aku mungkin akan menjelajah tanah Eropa setelah selesai dari sana.”

“Curang!”

“Makanya, ikut saja…” ada nada rayuan yang kentara saat Manuel mengucapnya, yang segera ia sembunyikan dengan melanjutkan aktivitasnya dengan mencacah Lady’s Mantle. Baginya persahabatannya dengan Keegsquaw sudah memasuki masa yang aneh di usianya yang kelima belas. Dalam beberapa kali kesempatan, gadis Wampanoag itu malah hadir di mimpi-mimpinya mengenakan pakaian khas suku Wampanoag—selebihnya, tidak perlu diceritakan secara detail.

“Aku akan menunggumu,” lanjut Keegsquaw, “Bawa cerita soal dataran Eropa padaku.”

Manuel tersenyum mendengarnya, meletakkan cacahan Lady’s Mantle tersebut dalam kuali.

“Apa kau pikir ramuan ini akan mengubah wajah James Royce menjadi lebih tampan?” tanya Keegsquaw penuh candaan dan mereka tertawa. James Royce adalah si atlet Quidditch dengan tubuh besar berwajah buruk rupa, dan hobinya adalah mengerjai anak-anak bertubuh kecil seperti Manuel.

“Apa kau mau aku saja yang minum ramuan ini sehingga aku terlihat lebih tampan untukmu?”

“Jangan!” Keegsquaw berseru.

“Oh, apa karena aku sudah tampan?” kekeh Manuel sambil meletakkan rambut unicorn pada kuali.

“Bagaimana yah…” Keegsquaw memperhatikan seksama mata hitam Manuel dan mendekatkan wajahnya pada pemuda itu. Jantungnya berdegup aneh, namun gadis itu tidak serta merta menjauhkan dirinya untuk menghirup aroma laut khas seorang Manuel Nadal. Keduanya tahu akan ke arah mana cengkrama mereka akan berlanjut. Mengabaikan degup aneh jantung mereka yang bersahutan, keduanya saling mendekat untuk sama-sama merasakan ciuman pertama mereka yang disertai aroma mawar segar yang terletak di samping kuali.

Tak lama Keegsquaw membuka matanya, tersenyum pada Manuel yang tampak tersihir oleh ratusan mantra.

“Kau harus kembali, Manuel,” ucap Keegsquaw dalam Bahasa Algonquian yang tidak Manuel pahami. “Kembalilah padaku…”

Manuel tidak peduli apa arti dari kata-kata yang diucapkan Keegsquaw. Keinginannya untuk mencium sahabatnya lagi lebih besar daripada apa pun, bahkan Kejuaran Ramuan yang akan diadakan tak lama lagi.




Abuela - Abuelo - artinya nenek dan kakek
Goto Top
 
Zamiel Henrichsen
Unregistered

Nama: Zamiel Alfons Henrichsen
Visu: Twan Kuyper
E-mail: underthestarfilledsky@gmail.com

“Henrichsen! Berhentilah menggoda Bjorge dan perhatikan ramuanmu!”

Mengalihkan perhatiannya dari gadis menawan dengan mata sebiru langit di sampingnya, Zamiel berbalik ke arah guru pengajar kelas ramuan. Yang adalah seorang penyihir wanita dengan rambut gelap yang telah mulai menampakkan helaian rambut abu-abu.

“Tidak perlu khawatir, liebe Anika,” terucap dengan senyuman lebar, dagunya terangkat dan sisi kanan kepalanya bergerak mendekati pundaknya, “Ramuan penangkal racun umum adalah ramuan tingkat dasar. Dan aku berada di tahap seduhan. Lihat? Bimbinganmu selama lima tahun terakhir terbukti sempurna.”

Zamiel selalu berpendapat bahwa ekspresi menahan amarah milik Profesor Nygaard tiap kali dia menggunakan nama depan sang Profesor menggelikan. Menghibur, dan memberikan kepuasan tersendiri. Dan hiburan yang ada di dalam kelas sudah terbatas, dia harus memanfaatkan semua sumber yang ada.

Profesor Nygaard, Henrichsen! Dan perhatikan ramuanmu!”

“Oh, Schatz,”[1] Zamiel meraih tangan dari pengajar kelas ramuan, membungkukkan badannya untuk menyentuh jemari feminin tersebut dengan bibirnya, “Panggil aku Zamiel.”

Tangan dalam genggaman longgarnya ditarik sebelum bibirnya dapat menyentuh apapun, dan satu tamparan yang disokong dengan tenaga di baliknya menimpa pucuk kelapanya. Meluruskan badannya, Zamiel membiarkan bibirnya untuk mengerucut. Tangan kanannya secara otomatis mengusap kepalanya.

“Detensi, Henrichsen! Malam ini pukul delapan! Di kantor saya!”

Senyumannya kembali merekah, “Es ist ein Date!”[2]

“Perhatikan ramuanmu!” Diulang untuk kali ketiga.

Mengekeh pelan, Zamiel hanya memberikan salut ke sosok Profesor Nygaard yang telah berjalan menjauh untuk mengecek murid-murid lainnya. Dia tidak berbohong ketika mengatakan dia sedang menunggu ramuannya untuk selesai diseduh. Dan jam pasir yang dia gunakan menunjukkan bahwa dia masih memiliki cukup banyak waktu untuk menunggu.

Ramuan penangkal racun umum, seperti yang telah dikatakannya tadi, adalah ramuan yang dapat dikatakan berada di tingkat pemula. Dengan total empat bahan, dan waktu pembuatan yang tergolong singkat, Zamiel dapat membuat ramuan ini dengan satu tangannya berada di belakang tubuhnya. Secara literal, bahkan.

Bezoar dan rempahan yang adalah campuran berbagai tanaman herbal yang kerap kali disebut sebagai ‘bahan standar’. Dua bahan ramuan yang telah digunakannya di awal kelas ramuan ini.

Dua bahan terakhir yang dibutuhkannya, bubuk tanduk Unicorn dan juga buah Mistletoe, telah siap untuk digunakan dan tergeletak polos di samping kuali tembaganya.

“Kau terlalu berani, Zami.”

Menoleh ke belakangnya, Zamiel disambut dengan ekspresi pasrah di wajah teman baiknya, Silvan. Tanpa merasa bersalah, Zamiel menyengir lebar. Tubuhnya kini menghadap ke meja di belakangnya, di mana Silvan tengah menumbuk tanduk Unicornnya.

“Bukanlah hidup tanpa sedikit bahaya, Silv.”

Silvan hanya mendengus saat mendengar jawabannya.

“Henrichsen!”

Mengangkat kedua tangannya ke sisi kepalanya dengan telapak tangan mengarah ke depan, Zamiel mengedipkan mata biru kehijauannya ke arah Profesor Nygaard sebelum kembali membalikkan badannya.

“Ätsch,”[3] diucapkan dengan tawa yang diselipkan di antara celaan yang ditujukan kepadanya.

Tanpa menoleh ke arah Silvan, yang adalah sang pemilik suara tersebut, Zamiel menarik tongkat sihirnya dari dalam saku dan mengarahkannya ke belakangnya. Satu bisikan “Langlock” kemudian, dan Zamiel tersenyum puas ketika mendengar seruan kaget dari Silvan.

“Ich finde dich interessant,”[4] suara feminin yang tidak lebih dari sebuah bisikan menarik perhatiannya kembali ke gadis yang memilih meja kerja di sampingnya. Senyuman lebar dengan sigap kembali merah di wajahnya, Zamiel menyentuh dagu Cecilie Bjorge dengan ujung jemarinya.

“Ah, mein Engel. Ich fasziniere mich auch so an dir,”[5] terutama dengan aksen Norwegia yang terpintal di antara fluktuasi suara Cecilie.

Salah satu hal yang disukainya dari sekolahnya, adalah keberadaan penyihir dari berbagai negara. Hal yang dimanfaatkan dengan baik oleh Ryker. Kakaknya tersebut seakan berniat untuk melengkapi koleksi mantan kekasihnya untuk mencangkupi seluruh negara di belahan bumi tempat mereka tinggal.

Dan dia tidak buta akan rencana kakaknya untuk memanfaatkan usaha perkapalan keluarga mereka untuk mengarungi samudera dan mengunjungi belahan bumi yang lain. Kiel, di mana pelabuhan sihir dan non-sihir berada, tempat bersinggahnya beragam penyihir, tidaklah cukup untuk mengikat kakak lelakinya. Tidak diragukan lagi kakaknya bertujuan untuk melengkapi koleksinya. Di antara mencari bahan-bahan ramuan langka, tentunya.

Jika ada satu hal yang dapat menunjukkan bahwa mereka adalah kakak adik, hal itu adalah passion mereka untuk ramuan.

Suara peringatan dari jam pasirnya menghentikan mulutnya untuk meneruskan kalimatnya. Ramuannya memanggil.

“Leider ist die Zeit um, liebe Cecilie. Ich würde dich vermissen,”[6] diucapkannya dengan kecupan ringan di pipi sang dara. Cecilie memutar biner biru menawannya, sebelum menepuk pipinya pelan dan kembali memerhatikan ramuannya sendiri.

Membalikkan badannya, Zamiel membalikkan jam pasir di depan kuali tembaganya. Suara dering berhenti seketika.

Tangannya meraih lesung yang berisi tumbukan tanduk unicorn, memasukkin satu jumput ke dalam ramuannya sebelum mengaduknya dua kali searah jarum jam. Dua buah berry Mistletoe menyusul kemudian, diikuti dengan dua kali adukan melawan arah jarum jam. Tangannya meraih tongkat aspennya, melambaikannya ke arah ramuan penangkal racun umumnya.

Dan selesai!

Zamiel meraih satu botol kaca yang telah disiapkan di sisi meja kerjanya. Satu dari beberapa lusin yang telah dipersiapkannya. Tidak masuk akal untuk membuang satu kuali penuh dengan ramuan sempurnya. Terutama ketika penggunaan racun non-letal bukanlah hal yang asing di Durmstrang.
[1] Oh, sayangku.
[2] Setuju! Ini Kencan!
[3] Rasakan!
[4] Menurutku kamu menarik
[5] Ah, malaikatku. Akupun menganggapmu menarik.
[6] Sayangnya waktuku sudah habis. Aku akan merindukanmu, Cecilie sayang.
Goto Top
 
Sarahilde Devereaux
Unregistered

Nama: Sarahilde Evren Devereaux
Visualisasi: Aya Shalkar
Email: ponyochingu@gmail.com



Sarahilde memang menyukai pelajaran ramuan, tetapi tidak dengan teman-teman sekelasnya.

Teman sekelas? Ralat. ‘Teman’ bukan lagi istilah yang tepat sejak mereka duduk di kelas dua, mengikuti kelas sejarah dan menyadari bahwa darah Timur Tengah yang mengalir dalam Sara berstatus sangat inferior dibanding bangsa Prancis. Mereka, penyihir-penyihir kolot yang bahkan tidak tahu di mana Ottoman[1] berada, mendadak mengagung-agungkan manusia (darah lumpur yang biasa mereka hina!) bernama Napoleon Bonaparte dan mengucilkan Sara dari kelompok bermain. Galériens[2] tak seharusnya bersekolah di Beauxbatons!, demikian mereka berujar waktu itu.

Si gadis, dengan harga diri yang luar biasa tinggi, waktu itu melawan dengan berteriak sambil menahan tangis. Terserah! Suatu saat, kalian akan menyesal mengolokku! Aku ini putri, keturunan penyihir paling termahsyur di Ottoman!

Atau, begitu yang senantiasa ia yakini, sebagaimana yang dikisahkan Maman[3] sebelum tidur kepada Sarahilde kecil.

Setelah kejadian yang berakhir dengan saling jambak itu, yang bisa dikategorikan teman oleh Sara hanya segelintir—membuat sepuluh jemari tangan terasa percuma. Malah, dapat dikata, ia tak memiliki seorang sahabat. Setiap Sara berjalan, banyak mata akan tertuju padanya, dan si gadis cukup angkuh untuk tidak menggubris satu pun. Mungkin mereka kagum akan ketangguhan Sara untuk berdiri sendiri. Mungkin karena nama belakangnya adalah Devereaux, salah satu kaum penyihir darah murni yang paling disegani. Mungkin karena kecantikannya—perpaduan antara Kaukasia dan Mongoloid? Bisa jadi. Namun, besar pula kemungkinan bahwa itu adalah tatapan yang sama yang menghakiminya sebagai budak.

O, sayang. Dia tidak peduli.

Sarahilde duduk manis. Mantan kelompok bermainnya mulai bisik-bisik dari meja seberang seolah tak pernah bosan mengusik hidupnya.

Pengajar mereka hadir tepat waktu, bercuap-cuap tentang cuaca yang sedingin salju abadi Pegunungan Pyrenees. Seorang murid di bangku depan terbatuk seakan paham kalau hari ini Profesor akan memaparkan tentang ramuan kesehatan, dan ia memulai dengan bertanya ramuan apa yang bisa mengobati batuk.

“Mungkin anda bisa menjawabnya,” dengan alis menukik tajam, si pengajar membidik kelompok gosip yang masih bergunjing, “…Murielle Saunier, benar?”

Pimpinan kelompok tertohok. Gelagapan, ia mencicit ragu-ragu. “T, teh lemon….”

Di bangkunya, Sara susah payah menahan diri agar tidak terbahak. “Sok membenci Moldu[4], tapi masih berpikiran seperti mereka, eh?”

“—ya, Mademoiselle[5]? Anda ingin mengatakan sesuatu?”

Ups. Bisikannya terlalu kencang, ya? “Maaf, Monsieur[6]. Maksudku,” Sara berdeham, membetulkan posisi duduknya. “Hanya ingin menambahkan jawaban teman baikku, Murielle….” Ah, siapa pun yang menciptakan majas sarkasme, ia adalah seorang yang brilian.

“Benar, jeruk lemon bisa mengobati batuk. Dari tempat ibuku berasal, mereka merebus lemon bersama dengan apel dan bunga linden setiap pagi untuk meringankan tenggorokan. Namun, kurasa ramuan batuk buatan penyihir adalah pilihan terbaik, kan? Aku pun menyadari bahwa belakangan Glover Hipworth berhasil mengembangkan obat buatan Linfred dari Stinchcombe menjadi Pepperup yang ampuh mengobati batuk, meskipun yang mengonsumsi harus tahan dengan telinga yang terus-terusan mengeluarkan uap dalam beberapa jam ke depan.”

“Dan bahannya adalah?”

“Cukup sederhana. Tanduk Bicorn dan akar Mandragore[7].”

Et voilá. Mungkin anda bisa ke depan kelas dan mencontohkan bagaimana cara membuatnya, Mademoiselle…”

“—Devereaux.” Berdirilah ia dengan dagu terangkat. “Sarahilde Devereaux.” Bukan Mathilde, sebagaimana orang sering salah membaca. Gadis itu senantiasa memastikan agar setiap orang akan mengingat namanya, mengingat eksistensinya. Kali ini, untuk membuat Murielle Saunier senantiasa terbayang akan hari di mana seorang keturunan yang-dia-sebut-Galériens mempermalukannya, Sarahilde tersenyum pongah dan mengedipkan satu mata sebelum melenggang ke depan.

À bientôt, mes chéries[8].





[1] Istilah “Turki” baru dikenal di abad 20-an, sementara kawasan yang sekarang menjadi negara Turki pada linimasa IRP (1820) berada di bawah kekuasaan Kerajaan Ottoman. Oleh karena itu, sebagai pengganti “negara Turki” digunakan kata “Ottoman” tanpa ada sangkut paut dengan kerajaan kecuali dinyatakan sebaliknya. (Merujuk pada angka 4 poin kedua di Pengumuman Forum yang melarang adanya hubungan dengan kerajaan.)
[2] Istilah bagi para budak pengayuh galai. Awal kedatangan bangsa Turki ke Prancis, mereka bekerja sebagai budak selain menjadi pedagang.
[3] Ibu
[4] Muggle
[5] Nona
[6] Tuan
[7] Mandrake
[8] Sampai jumpa, sayang.
Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums. Reliable service with over 8 years of experience.
Go to Next Page
« Previous Topic · Aplikasi Chara · Next Topic »
Locked Topic